Abu Anak Krakatau Mengarah ke Jabar! Sekolah Terapkan PJJ, Kasus Kesehatan Dipantau Harian

Senin, 07 September 2026 | 08:56 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Suara.com)
  • Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberlakukan pembelajaran jarak jauh pada 7 September 2026 akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memerintahkan Dinas Kesehatan melaksanakan surveilans harian untuk memantau gangguan kesehatan masyarakat terdampak.
  • Dinas Lingkungan Hidup bersama instansi terkait ditugaskan memantau kualitas udara dan mengatur pembersihan abu dengan cara dibasahi.

Pemprov Jabar juga mengatur penanganan abu vulkanik di jalanan dan fasilitas umum.

Pembersihan diwajibkan menggunakan metode yang tidak membuat material mikro kembali beterbangan, salah satunya dengan menyiram atau membasahi abu terlebih dahulu.

Selama abu vulkanik masih terdeteksi di wilayah Jawa Barat, Pemprov Jabar juga meningkatkan upaya menjaga keselamatan lalu lintas.

"Saya memerintahkan seluruh kepala perangkat daerah dan pihak terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan, menyampaikan informasi berdasarkan sumber resmi, serta segera melaporkan peningkatan kasus kesehatan, gangguan pelayanan, keterbatasan logistik, dan kebutuhan dukungan kepada pimpinan/posko penanganan," ungkap Dedi.

Dedi mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi meningkatkan kewaspadaan dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan sedapat mungkin tetap berada di dalam rumah apabila tidak ada keperluan mendesak, terutama di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik tinggi.

Untuk perlindungan pernapasan, masyarakat diimbau menggunakan masker, dengan mengutamakan masker jenis KN95 atau masker yang tersedia dan menutup hidung serta mulut dengan baik.

Warga juga dianjurkan menggunakan kacamata saat berada di luar ruangan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik serta segera membersihkan diri setelah terpapar.

Saat membersihkan rumah, fasilitas umum, atau lingkungan sekitar, abu vulkanik dianjurkan dibasahi terlebih dahulu agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.

"Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, nyeri dada, gangguan atau iritasi mata, gangguan kulit, maupun gejala berat lainnya," jelas Dedi.

Masyarakat juga diminta menutup dan melindungi sumber air serta makanan agar tidak terpapar abu vulkanik. (Antara)

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com