- Pemerintah Jepang mengerahkan 180 personel militer dan tiga helikopter Chinook untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan.
- Ratusan personel militer tersebut telah tiba di Pontianak sejak Selasa untuk mempersiapkan operasional helikopter yang dijadwalkan tiba pada Rabu.
- Seluruh bantuan asing dari Jepang diintegrasikan ke dalam mekanisme operasi penanganan karhutla yang sepenuhnya dikendalikan oleh Indonesia.
Suara.com - Pemerintah Jepang mengerahkan sekitar 180 personel militer untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Ratusan personel tersebut disiapkan bersama tiga helikopter CH-47 Chinook yang akan digunakan untuk membantu pemadaman dari udara.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menyebut personel Jepang yang terlibat terdiri atas kru operasi serta unsur pendukung. Saat ini, mereka telah berada di Pontianak, Kalimantan Barat, untuk memastikan fasilitas yang dibutuhkan bagi operasional helikopter dalam kondisi siap.
"Jepang turut mengerahkan sekitar 180 personel yang terdiri atas kru operasi dan unsur pendukung lainnya," seperti dikutip siaran pers Badan Komunukasi Pemerintah (Bakom) RI yang disiarkan Selasa (8/9/2026) di Jakarta.
Pontianak diproyeksikan menjadi pangkalan bagi helikopter CH-47 Chinook yang dikirim Jepang sebagai bagian dari dukungan penanganan karhutla. Personel Jepang yang telah tiba di kota tersebut melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas pendukung sebelum helikopter dioperasikan.
Helikopter CH-47 Chinook nantinya dapat digunakan untuk memperkuat pemadaman melalui metode water bombing. Dengan kapasitas angkut air yang besar, keberadaan helikopter diharapkan membantu mempercepat penanganan titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Dalam siaran pers tersebut, Kemhan menyebut helikopter bantuan Jepang kini masih dalam perjalanan menuju Kalimantan dan diperkirakan tiba pada Rabu (9/9).
Indonesia Tetap Kendalikan Operasi
Kehadiran personel dan aset militer Jepang tidak mengubah kendali Indonesia dalam operasi penanganan karhutla. Pemerintah menegaskan seluruh bantuan asing akan ditempatkan sebagai unsur pendukung dan diintegrasikan ke dalam mekanisme operasi yang dijalankan pemerintah Indonesia.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Letjen TNI Tri Budi Utomo mengatakan pengerahan bantuan Jepang merupakan bagian dari tindak lanjut kerja sama pertahanan komprehensif atau Defence Cooperation Arrangement (DCA) antara Indonesia dan Jepang yang ditandatangani pada 4 Mei 2026.
Salah satu cakupan kerja sama tersebut adalah pengelolaan bencana, termasuk Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Menurut Tri, keterlibatan Jepang dalam penanganan karhutla merupakan bentuk kerja sama kemanusiaan yang juga perlu dilihat dalam konteks hubungan kedua negara.
"Jadi, seluruh kemampuan nasional tetap dikerahkan. Bantuan Jepang kemudian diintegrasikan dengan seluruh operasi penanganan karhutla yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia," tutur dia.
Tri mengapresiasi dukungan Pemerintah Jepang dalam menghadapi karhutla di Kalimantan. Menurutnya, tambahan tiga helikopter Chinook menjadi bentuk solidaritas negara sahabat sekaligus memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia-Jepang.
"Atas nama pemerintah Indonesia, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah Jepang atas dukungan dan solidaritas yang diberikan. Kami berharap tambahan tiga helikopter CH-47 Chinook dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan," pungkas dia.