Media Turki Umumkan Jurnalisnya Hilang saat Meliput Gunung Anak Krakatau Meletus

Kamis, 10 September 2026 | 12:59 WIB
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]
  • Tim SAR mencari delapan korban hilang kontak di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.

  • Lima jurnalis dari media lokal dan internasional termasuk dalam daftar penumpang speedboat tersebut.

  • Letusan Anak Krakatau sempat melumpuhkan aktivitas penerbangan nasional akibat sebaran abu vulkanik.

Suara.com - Media Turki Anadolu umumkan jurnalisnya hilang saat meliput Gunung Anak Krakatau. Jurnalis Anadolu itu bernama Firdaus Wajidi.

Tim Search and Rescue (SAR) bergerak cepat menyisir kawasan Selat Sunda untuk menemukan speedboat berpenumpang 8 orang yang hilang kontak. Rombongan yang terdiri dari lima wartawan, dua kru kapal, dan seorang pemandu tersebut hilang saat menuju area Anak Krakatau untuk meliput aktivitas vulkanik.

Pencarian berfokus pada lintasan laut menuju pulau gunung api tersebut setelah pesan terakhir rombongan terdeteksi. Hingga saat ini, lokasi pasti maupun keberadaan seluruh penumpang belum berhasil diidentifikasi oleh petugas penyelamat.

Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]

Isu keselamatan insan pers menjadi sorotan utama karena jurnalis dari Antara, Merdeka, iNews, serta kontributor freelance Anadolu bernama Firdaus Wajidi berada di dalam kapal tersebut. Risiko tinggi peliputan bencana alam kembali memakan korban di tengah dinamika erupsi gunung berapi yang belum sepenuhnya stabil.

"Mereka yang dilaporkan hilang termasuk jurnalis yang bekerja untuk kantor berita negara Indonesia Antara, Merdeka, dan iNews, serta Firdaus Wajidi, seorang juru kamera lepas yang bekerja untuk Anadolu," tulis media itu.

Al Amrad, Kepala Kantor Search and Rescue Provinsi Banten, menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kontak telah terputus dengan sebuah speedboat yang membawa lima fotojurnalis, dua anggota kru, dan seorang pemandu.

Amrad mengatakan salah satu jurnalis telah mengirimkan pesan kepada kerabatnya yang menyatakan bahwa mereka telah mencapai perairan di sekitar Anak Krakatau, seraya menambahkan bahwa itu adalah komunikasi terakhir yang diterima dari kelompok tersebut.

Ia menjelaskan bahwa tim pencari dan penyelamat di area tersebut belum berhasil menjalin kontak dengan kelompok itu atau menentukan lokasi mereka.

Meskipun letusan hebat di Anak Krakatau sudah mereda, aktivitas vulkanik di pulau tersebut sampai sekarang masih terus berlangsung.

Letusan hebat gunung api ini sebelumnya memuntahkan kolom abu vulkanik hingga ketinggian 6.000 meter di atas Pulau Jawa. Sebaran material letusan bahkan membubung tinggi hingga 15.000 meter saat mengarah ke kawasan Pulau Sumatra.

Dampak lontaran abu vulkanik tersebut sempat melumpuhkan lalu lintas udara secara signifikan di kawasan barat Indonesia. Manajemen bandara terpaksa menghentikan sementara jadwal penerbangan demi keselamatan operasional pesawat.

Secara nasional, lebih dari 2.300 penerbangan domestik maupun internasional dibatalkan akibat sebaran abu tersebut. Situasi darurat ini menyebabkan sekitar 340.000 calon penumpang terlantar di tujuh bandara berbeda.

Otoritas penerbangan akhirnya membuka kembali operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma setelah kondisi udara dinyatakan aman. Tiga bandara udara lainnya yang sempat terdampak kini juga sudah beroperasi secara normal kembali.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com