-
Kapal kargo Iran diserang di Selat Hormuz hingga menewaskan satu korban dan empat luka-luka.
-
Rencana pertemuan diplomatik kelautan di Oman batal terlaksana akibat penolakan negara-negara Teluk.
-
Eskalasi militer di Selat Hormuz memicu penurunan drastis lalu lintas pelayaran kapal komersial dunia.
Tim penyelamat lokal terpaksa mengevakuasi seluruh kru kapal akibat kobaran api yang tidak terkendali di sekitar area perairan Qeshm.
Aktivitas kapal komersial melintasi jalur laut internasional ini menurun drastis sejak konflik bersenjata yang melibatkan militer AS dan Israel meletus pada 28 Februari.
AS mengklaim tetap berupaya mengawal kapal-kapal tanker minyak menyusuri pantai Oman guna memastikan pasokan energi dunia tidak terputus total.
Ancaman pelayaran juga kian meluas ke Laut Merah setelah kelompok pemberontak Houthi menduduki pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb.
Di tengah situasi maritim yang memanas, Presiden Masoud Pezeshkian mengaku sempat menggelar pembicaraan bilateral dengan pejabat tinggi Uni Emirat Arab di New Delhi.
Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi BRICS bersama Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed.
Langkah diplomasi ini dinilai krusial mengingat Iran sebelumnya telah meluncurkan ribuan rudal dan drone ke wilayah Uni Emirat Arab yang merupakan sekutu dekat AS.
Konflik di Selat Hormuz kini berada di titik nadir, mengancam kestabilan pasokan energi global dan peta keamanan kawasan Timur Tengah.
Pulau Qeshm yang berjarak sekitar 22 kilometer dari kota pelabuhan Bandar Abbas merupakan titik krusial bagi kontrol klaim wilayah Iran di Selat Hormuz. Sejak awal perang yang meletus pada 28 Februari lalu, Iran berupaya menerapkan tarif transit bagi setiap kapal komersial yang melintasi perairan Teluk Persia. Ketegangan semakin rumit karena rute pelayaran internasional ini menjadi arena konfrontasi terbuka antara militer AS, Israel, dan milisi penyokong Iran di kawasan Teluk serta Laut Merah.