Mirip Ritual Satanic, Atraksi Pentagram dan Kostum Iblis di Pekalongan Dikecam MUI

Senin, 14 September 2026 | 17:29 WIB
Ilustrasi Karnaval Pekalongan (commons.wikimedia.org/Indonesiagood)
  • MUI menyoroti Simbang Kulon Night Carnival di Pekalongan karena menyajikan pertunjukan bernuansa satanic.
  • Cholil Nafis menyatakan simbol iblis dan penyembelihan hewan secara sadis bertentangan dengan ajaran Islam.
  • MUI mengimbau panitia agar mengisi peringatan Maulid Nabi dengan kegiatan keagamaan yang mendidik masyarakat.

Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, yang menuai kontroversi lantaran menyajikan pertunjukan bernuansa mistik yang dinilai mirip dengan ritual satanic.

Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis menyatakan, atraksi menyeramkan yang menonjolkan simbol-simbol satanic serta aksi penyembelihan hewan secara sadis di muka umum sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan nilai-nilai mulia peringatan Maulid Nabi.

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” Kiai Cholil di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Dalam SKNC 2026 yang viral di media sosial, pertunjukannya memperlihatkan para talent yang mengenakan kostum-kostum iblis membawa kitab berlambang mata satu, obor, serta penggunaan simbol pentagram terbalik yang secara universal diidentikkan dengan aliran satanic.

Hal yang paling menyita perhatian dan memicu keresahan masyarakat adalah adegan penyembelihan seekor kambing di tengah rangkaian acara pertunjukan.

Kiai Cholil memperingatkan bahwa penyembelihan hewan dengan cara yang tampak tidak beradab dan dijadikan tontonan horor sangat menyimpang dan bertentangan dengan syariat.

Dalam konteks memperagakan seni Islam dan keguyuban, Kiai Cholil mengingatkan jangan menyimpang menjadi tampilan setan-setan, atau menyembelih hewan dengan cara yang tidak baik, lehernya dipotong hingga terlepas dan seterusnya.

“Itu bukan ajaran Rasulullah,” ujar Kiai Cholil sebagaimana dilansir Antara.

Lebih lanjut, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah ini mengimbau panitia penyelenggara dan masyarakat luas agar mengisi bulan Maulid Nabi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Quran, lantunan shalawat, penyampaian mauidhoh hasanah (nasihat-nasihat baik), kisah teladan Nabi, serta penyediaan hidangan makanan sebagai bentuk syukur (sedekah).

Ketua Badan Pengurus DSN MUI ini berharap panitia di berbagai daerah dapat lebih selektif, bijaksana, dan berhati-hati dalam merancang ekspresi seni budaya.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com