Harga Bensin Tembus Rp 42 Ribu Per Liter, Krisis BBM di Depan Mata di Prancis

Kamis, 17 September 2026 | 13:23 WIB
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron. (dok. BAKOM RI)
  • Presiden Emmanuel Macron memerintahkan jajarannya mengatasi krisis BBM dan mengendalikan lonjakan harga nasional.

  • Harga solar dan bensin melonjak hingga hampir 30 persen akibat konflik kawasan Iran.

  • Menteri Keuangan Prancis memprediksi tarif BBM akan bertahan tinggi dalam jangka waktu lama.

Suara.com - Presiden Emmanuel Macron mengambil langkah darurat dengan menekan jajarannya agar segera menyelesaikan persoalan kelangkaan dan kenaikan harga energi nasional. Langkah tegas ini diambil demi melindungi daya beli masyarakat dari guncangan ekonomi global yang kian parah.

Pemerintah Prancis kini menargetkan dua fokus utama sekaligus, yaitu mengamankan ketersediaan stok di SPBU dan menahan laju lonjakan harga. Integrasi dua kebijakan ini menjadi prioritas tertinggi dalam agenda penanganan krisis energi nasional.

Keputusan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat gejolak pasar yang terus membebankan warga. Intervensi langsung dari istana kepresidenan ini diharapkan mampu meredam kepanikan publik dalam waktu singkat.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron. [Setpres]

Sektor transportasi dan industri domestik mulai merasakan dampak serius akibat mahalnya biaya pengisian energi harian. Tanpa langkah konkret dari kabinet, pertumbuhan ekonomi nasional dikhawatirkan bakal melambat signifikan.

Situasi di lapangan menunjukkan akumulasi kenaikan tarif energi yang sudah melampaui batas toleransi anggaran rumah tangga.

Penetapan tarif solar di tingkat pengecer kini menembus angka 2,30 euro atau setara Rp46.809 per liter. Sementara itu, pemilik kendaraan berbahan bakar bensin harus membayar 2,10 euro yang setara Rp42.738 per liter.

Kenaikan ekstrem ini mencatatkan rekor peningkatan hampir 30 persen jika dibandingkan dengan periode sebelum gejolak terjadi. Angka tersebut menjadi lonjakan tertinggi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure memberikan proyeksi yang tergolong kelam terkait masa depan tarif energi domestik. Ia menegaskan bahwa masyarakat harus bersiap menghadapi tingginya biaya hidup ini dalam jangka waktu yang relatif lama.

Eskalasi ketegangan militer yang melibatkan Iran sejak Februari 2026 menjadi pemantik utama kekacauan rantai pasok global. Imbas konflik geopolitik di Timur Tengah tersebut langsung menjalar cepat hingga ke pasar retail Eropa.

Kondisi geopolitik yang belum menentu membuat ketidakpastian pasokan minyak mentah dunia terus membayangi negara-negara pengimpor.

Juru Bicara Pemerintah Prancis Maud Bregeon menyampaikan secara langsung amanat tegas yang dikeluarkan oleh kepala negara.

"Presiden Republik Prancis telah mengarahkan pemerintahannya untuk berupaya penuh guna memastikan pasokan (BBM) di satu sisi serta mengendalikan harga di sisi lain," kata Bregeon dalam konferensi pers, dikutip dari Sputnik.

Sikap resmi kepresidenan ini menjadi acuan utama bagi seluruh kementerian teknis untuk segera merumuskan formula taktis. Penataan kembali distribusi energi di seluruh wilayah Prancis kini mulai dieksekusi secara ketat.

Sebagai latar belakang, ketergantungan wilayah Eropa terhadap dinamika kawasan Timur Tengah masih sangat tinggi dalam hal pemenuhan cadangan energi. Ketegangan militer pada awal tahun 2026 ini memicu gangguan distribusi minyak mentah secara global hingga memicu krisis di berbagai negara penerima impor, termasuk Prancis.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com