Hangat di Rel LRT Jakarta, Dingin di Peta Politik 2029: Mengapa Duet Prabowo-Pramono Sulit Terwujud?

Kamis, 17 September 2026 | 21:11 WIB
Presiden Prabowo Subianto (kiri) bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (tengah) memasuki peron di Stasiun LRT Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (16/9/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj]
BACA 10 DETIK
  • Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat peresmian LRT di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
  • Pengamat politik Hendri Satrio menilai peluang koalisi Prabowo dan Pramono pada Pilpres 2029 sangat kecil karena terbentur kepentingan partai.
  • Kolaborasi politik tersebut dinilai dapat membesarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan membahayakan keselamatan elektoral Partai Gerindra.

Suara.com - Kemilau kehangatan antara Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung diyakini berbanding terbalik dengan kans koalisi mereka di Pilpres 2029.

Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengungkapkan, kemesraan seremonial tersebut terbentur dinginnya kepentingan elektoral partai.

“Prabowo kan tinggal satu periode lagi. Kalau mulai 2029 sampai 2034, 2034 dia nggak bisa maju lagi. Makanya kecil kemungkinannya dia ambil orang, sosok dari partai politik yang berbeda,“ ujarnya saat dimintai pendapat oleh Suara.com, Kamis (17/9/2026).

Di balik panggung seremoni yang guyub, masa depan dan keselamatan elektoral Partai Gerindra tetap menjadi harga mati yang mengganjal koalisi tersebut.

“Kalau dia sama Pram 2029 terus menang, jalan nih sampai 2034, itu sama aja dia ngegedein PDI Perjuangan. Bahaya buat Gerindranya. Pramnya gede soalnya, sebagai Wapres, gitu,“ lanjut sosok yang biasa disapa Hensat itu.

Kedekatan kedua figur ini sebelumnya menyedot atensi saat peluncuran LRT rute Kelapa Gading menuju Manggarai di Jakarta pada Rabu (16/9/2026).

Dalam momentum peresmian itu, Prabowo menepis sekat perbedaan partai dengan mengumbar pujian tulus kepada Pramono.

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) berbincang dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi (kiri), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kanan) dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (ketiga kiri) saat menumpang LRT di rute LRT Kelapa Gading-Manggarai, Jakarta, Rabu (16/9/2026). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj]

“Saya harus akui kalau ada gubernur yang hebat, ya saya akui dia hebat. Walaupun bukan dari partai saya,“ ungkapnya dalam sesi pidato.

Kebijakan Pramono dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk masa promosi LRT pun sarat akan simbolis angka delapan, yang diyakini erat kaitannya dengan Prabowo.

Mulai dari pengenaan tarif Rp8, hingga masa berlaku harga khusus selama 8 hari, terhitung sejak LRT Kelapa Gading–Manggarai beroperasi.

“Selama 8 hari kami akan membebaskan bagi seluruh warga Jakarta yang akan menggunakan mulai sekarang setelah diresmikan Bapak Presiden, dan nanti akan beroperasi sepenuhnya,“ kata eks Seskab itu.

Akan tetapi, kehangatan di lintasan rel ibu kota itu diprediksi sekadar basa-basi kenegaraan yang tak akan menembus gelanggang Pilpres 2029.

“Ya ini sebagai kehormatan atau penghormatan saling menghargai dari dua pemimpin dan dari dua tokoh partai politik, gitu,“ pungkas Hensat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com