Bahaya Kabut Asap Karhutla: Bisa Turunkan Fungsi Paru hingga Picu Kanker

Jum'at, 18 September 2026 | 17:00 WIB
Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]
BACA 10 DETIK
  • Dokter Nur Anissa di Pontianak memperingatkan bahwa kabut asap karhutla memicu gangguan kesehatan pernapasan jangka pendek maupun panjang.
  • Dampak buruk kesehatan meliputi iritasi, ISPA, pneumonia, penurunan fungsi paru, hingga peningkatan risiko kanker akibat partikel halus PM2.5.
  • Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan serta menggunakan masker respirator seperti N95 saat kualitas udara memburuk.

Suara.com - Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak, Nur Anissa, mengingatkan masyarakat soal dampak paparan kabut asap karhutla terhadap kesehatan.

Menurutnya, paparan dalam jangka panjang berisiko menurunkan fungsi paru dan meningkatkan reaktivitas saluran napas. Partikel halus, terutama PM2.5, menjadi salah satu polutan yang paling perlu diwaspadai karena dapat masuk hingga ke paru-paru.

Dalam jangka pendek, asap dapat memicu iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, produksi dahak hingga mengi. Paparan asap juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap ISPA dan pneumonia serta memperburuk asma dan PPOK.

“Jadi, kita bisa mengalami ISPA, infeksi saluran pernapasan akut dan pneumonia. Ini akibat paparan asap meningkatkan kerentanan terhadap infeksi,” katanya.

Dalam jangka panjang, paparan berbagai zat dalam kabut asap yang bersifat karsinogenik juga berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Nur mengimbau warga Kalbar, khususnya Pontianak, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk. Jika harus keluar, masyarakat disarankan menggunakan masker respirator seperti N95, KN95, atau FFP2.

“Masker yang direkomendasikan yaitu jenis respirator, antara lain masker N95, KN95, dan masker FFP2,” ujarnya.

Ia menegaskan masker bedah hanya memberikan perlindungan terbatas terhadap partikulat kabut asap, sementara masker kain dan buff dinilai tidak memadai untuk melindungi dari partikulat maupun gas beracun.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com