Riyadh Diguncang Serangan Houthi, Pasokan Minyak Global di Ujung Tanduk!

Minggu, 20 September 2026 | 07:45 WIB
Laporan gambar dan rekaman asap yang membumbung dari fasilitas-fasilitas di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal balistik [Ist]
BACA 10 DETIK
  • Kelompok Houthi menyerang ibu kota Arab Saudi dan fasilitas minyak Yanbu dengan rudal serta drone pada Sabtu.
  • Koalisi militer Arab Saudi berhasil menghancurkan rudal tersebut dan menggagalkan serangan ke berbagai wilayah sipil.
  • Eskalasi konflik ini mengancam pasokan minyak global serta memicu peringatan keamanan dari Departemen Luar Negeri AS.

Suara.com - Houthi menyatakan telah menyerang sejumlah situs "sensitif" di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat tak berawak (drone) pada hari Sabtu. Serangan ini memicu kobaran api dan kepulan asap hitam tebal di sekitar bandara utama kota tersebut.

Berdasarkan rekaman video dan foto jurnalis Reuters dan jaringan lainnya, pilar asap hitam terlihat membubung tinggi dengan latar jalan raya bandara, gedung terminal utama, serta fasilitas lainnya. Pada salah satu titik, kobaran api tampak membesar dari area yang diidentifikasi sebagai tangki bahan bakar.

Serangan ini tercatat sebagai gempuran pertama yang dilaporkan langsung menargetkan Riyadh sejak kelompok Houthi mengeskalasi serangan mereka terhadap Arab Saudi pada bulan Juli lalu.

Meski tidak merinci target spesifik di Riyadh, Houthi mengonfirmasi bahwa mereka juga menyerang fasilitas minyak Aramco di kota pesisir Laut Merah, Yanbu, sebagai balasan atas serangan yang sebelumnya menimpa ibu kota Yaman, Sanaa.

Merespons agresi tersebut, koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan rudal yang diarahkan Houthi ke Riyadh pada Sabtu dini hari. Koalisi juga berhasil menggagalkan serangkaian serangan yang menyasar warga sipil di wilayah Bish dan Farasan (barat daya), Taif (barat), serta fasilitas di Yanbu.

Peringatan Dini dan Dampak Geopolitik

Otoritas pertahanan sipil Arab Saudi sebelumnya sempat mengirimkan peringatan bahaya ancaman udara melalui telepon seluler kepada warga di Riyadh dan kota Al-Kharj, sebelum mencabut status siaga pada Sabtu pagi. Rentetan suara ledakan dilaporkan terdengar jelas di kawasan Olaya, Riyadh, sesaat sebelum pengumuman aman dirilis.

Pertempuran antara Houthi dan Arab Saudi ini merupakan front konflik baru yang lahir dari eskalasi perang yang lebih luas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semenjak akhir Februari.

Meningkatnya intensitas serangan Houthi yang menargetkan kota-kota, infrastruktur energi, dan lalu lintas pelayaran ini menciptakan ancaman serius bagi pasokan minyak global. Rute alternatif Laut Merah untuk ekspor negara-negara Teluk kini berada dalam bahaya, terlebih saat Selat Hormuz masih berstatus diblokade.

Menyusul situasi keamanan yang memburuk, Departemen Luar Negeri AS segera menerbitkan peringatan keamanan bagi warganya. AS mendesak seluruh warganya di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi, dan meminta warga AS di luar kawasan tersebut agar mempertimbangkan kembali secara serius rencana perjalanan mereka ke Timur Tengah.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer langsung dari AS terhadap kelompok Houthi.

Respon Komunitas Internasional

Konflik yang terus memanas di Semenanjung Arab ini memicu berbagai reaksi dari komunitas global:

  1. Turki Tawarkan Bantuan: Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu kebutuhan militer dan teknis Arab Saudi. Bantuan ini dilandasi oleh pakta pertahanan trilateral antara Turki, Pakistan, dan Arab Saudi yang ditandatangani bulan lalu, di mana serangan bersenjata terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
  2. Syarat Negosiasi Iran: Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa Teheran menginginkan perang antara Saudi dan Houthi segera berakhir. Melalui mediator Qatar dan Pakistan, Iran telah menyampaikan syarat untuk kembali bernegosiasi dengan AS—salah satunya adalah penghentian perang di semua front—dan kini tengah menunggu respons dari pemerintahan Trump.
  3. Kecaman Dewan Keamanan PBB: Melalui pernyataan resminya pada hari Jumat, Dewan Keamanan PBB mengecam sekeras-kerasnya serangan berkelanjutan Houthi ke wilayah Arab Saudi. PBB menyoroti dampak serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi yang telah mengakibatkan jatuhnya korban luka, termasuk perempuan dan anak-anak, sekaligus mengutuk eskalasi militer Houthi di Yaman.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com