-
Sebanyak 74 pelajar WNI masih bertahan di Kota Mokha di tengah konflik Yaman.
-
KBRI Muscat dan Riyadh menyiagakan jalur hotline darurat untuk memantau keselamatan seluruh WNI.
-
Eskalasi militer Houthi dan Koalisi Saudi berpotensi merusak kesepakatan gencatan senjata sejak 2022.
Suara.com - Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi sebanyak 74 mahasiswa asal Indonesia atau WNI masih terisolasi di Kota Mokha saat pertempuran di Yaman kembali berkecamuk.
Ancaman keselamatan para mahasiswa ini muncul tepat setelah koalisi militer menggempur sejumlah wilayah strategis dan mengancam stabilitas kawasan.
Dua diplomat KBRI di Muscat dan Riyadh kini bersiaga penuh untuk memetakan jalur evakuasi aman bagi warga negara yang tersisa.
Keberhasilan meloloskan tiga warga Indonesia dari zona bahaya menjadi titik terang di tengah kepungan pertempuran yang kian meruncing.
Ketegangan militer yang meningkat drastis ini memaksa pemerintah memperketat pengawasan lalu lintas warga di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah terus memantau kondisi WNI di wilayah Yaman melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Muscat dan KBRI Riyad.
Seluruh warga negara diminta tidak mengabaikan instruksi keselamatan resmi guna menghindari risiko jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil.
“Jadi, ada 77 (WNI) tapi ada 3 yang sudah bisa keluar. Jadi, ada sisanya 74 pelajar yang ada di sana. Mungkin seluruhnya pelajar asli,” kata Juru Bicara Kemlu 2, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, di kantor Kemlu Jakarta Pusat, Kamis (17/8/2026).
Pusat krisis Kementerian Luar Negeri telah menyiagakan saluran komunikasi darurat yang beroperasi tanpa henti untuk merespons kondisi kritis.
“Kami juga menyediakan hotline-hotline yang bisa dihubungi apabila ada kondisi yang berat,” ujar dia.
Situasi keamanan di Yaman memburuk drastis setelah kelompok Houthi melaporkan gelombang serangan udara susulan dari pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Saree mengatakan, sedikitnya 54 hingga 70 serangan udara menghantam provinsi Al-Bayda, Saada, Taiz, Marib, dan Al-Jawf.
Aksi gempuran udara tersebut merupakan balasan atas serangan rudal serta nirawak Houthi yang menargetkan fasilitas energi Aramco dan pemukiman warga di Arab Saudi.
Rentetan serangan balasan ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai tahun 2022 sekaligus memperluas peta peperangan di Timur Tengah.