Italia Larang Siswi Pakai Hijab di Sekolah

Senin, 21 September 2026 | 11:00 WIB
Ilustrasi hijab di sekolah negeri. Pemaksaan pakai hijab di sekolah negeri tidak dibenarkan[Pixabay]
BACA 10 DETIK
  • Italia menyiapkan kebijakan pembatasan jumlah siswa asing di seluruh ruang kelas sekolah.

  • Penggunaan burqa dan hijab resmi bakal dilarang di lingkungan pendidikan formal Italia.

  • Orang tua murid asing yang kesulitan beradaptasi diwajibkan untuk mempelajari bahasa Italia.

Suara.com - Pemerintah Italia bersiap memperketat aturan pendidikan dengan membatasi kuota pelajar asing serta melarang penggunaan hijab di sekolah. Langkah tegas ini diambil untuk memastikan murid lokal tetap menjadi mayoritas di kelas mereka sendiri.

Perdana Menteri Giorgia Meloni menegaskan keberadaan murid lokal tidak boleh tergeser oleh dominasi pendatang di ruang kelas. Rencana strategis ini dirancang untuk mengubah komposisi pelajar di seluruh lembaga pendidikan formal.

Penerapan regulasi anyar ini digadang-gadang bakal mengubah peta integrasi budaya di lingkungan pendidikan Eropa. Selain pembatasan fisik, skema ini mendorong penyesuaian budaya secara menyeluruh bagi keluarga pendatang.

"Anak-anak Italia tidak boleh merasa seperti kelompok minoritas di dalam kelas," kata Meloni dalam acara Fenix, sebuah festival pemuda nasional yang diselenggarakan oleh organisasi kepemudaan dari partainya, Brothers of Italy (FdI), dikutip dari Anadolu.

Pernyataan tersebut menegaskan sikap politik pemerintah dalam merespons pergeseran demografi di sektor pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah menilai dominasi budaya luar di ruang kelas sudah mencapai batas yang mengkhawatirkan.

"Sungguh tidak masuk akal jika ruang kelas Italia, anak-anak Italia merasa terpojok karena melepaskan status mereka menjadi kelompok minoritas. Hal itu tidak bisa dibiarkan," tambahnya, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita ANSA.

Pemerintah secara eksplisit membidik atribut keagamaan tertentu yang dinilai menutup identitas diri di area belajar. Langkah ini diambil guna menyelaraskan tradisi busana di ruang publik pendidikan.

Dia lebih lanjut menyatakan bahwa pemerintahannya akan melarang penggunaan burqa dan hijab di sekolah.

Aturan ini memicu gelombang diskusi terkait kebebasan berbusana dan integrasi budaya di benua biru. Meski demikian, pemerintah berkilah bahwa langkah tersebut demi kesetaraan standar di lingkungan sekolah.

Selain pembatasan pakaian, aspek kebahasaaan menjadi fokus utama penataan ulang sistem pendidikan nasional. Orang tua murid asing dituntut memiliki peran aktif dalam proses adaptasi anak-anak mereka.

Meloni juga mengatakan bahwa orang tua dari siswa asing yang kesulitan beradaptasi dengan sistem sekolah akan diwajibkan untuk mempelajari bahasa Italia.

Kewajiban menguasai bahasa setempat dinilai menjadi kunci utama dalam mengatasi hambatan komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat proses pembauran warga migran.

Menurut Meloni, langkah kebijakan itu diperkirakan akan segera diajukan ke Dewan Menteri.

Penetapan regulasi ini menandai pergeseran arah kebijakan domestik Italia yang semakin mengetatkan aturan imigrasi. Pemerintah ingin memastikan nilai-nilai lokal tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan publik.

Isu pembatasan siswa asing dan penataan busana di sekolah merupakan bagian dari agenda politik partai berkuasa. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya populasi pendatang di berbagai kota besar Italia dalam beberapa tahun terakhir.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com