-
Kelompok Houthi sekutu Iran meluncurkan rudal balistik dan drone menuju sasaran vital di Riyadh.
-
Serangan menyasar fasilitas Aramco di Yanbu dan mengancam stabilitas pasokan energi dunia.
-
Pertahanan udara Saudi berhasil mencegah korban jiwa meski kepulan asap sempat terlihat dekat bandara.
Suara.com - Kelompok milisi Houthi dari Yaman yang merupakan sekutu terdekat Iran kembali mengguncang jantung pertahanan Arab Saudi melalui gempuran rudal balistik dan drone jelajah. Serangan mendadak yang mengincar area vital di Riyadh ini menandai babak baru eskalasi militer yang mengancam jalur pasokan minyak dunia.
Aksi nekat ini membuktikan bahwa Houthi bukan sekadar milisi lokal, melainkan perpanjangan tangan tepercaya Tehran dengan jangkauan tempur semakin presisi. Keberhasilan menembus benteng ibu kota menunjukkan keunggulan doktrin perang asimetris yang disokong penuh oleh teknologi serta logistik Iran.
Ancaman langsung terhadap pusat ekonomi Saudi ini memaksa pasar energi global berada dalam posisi siaga satu. Keterlibatan aktif Houthi sebagai proxy utama Iran kian memperjelas arah konflik regional yang tidak lagi terbatas pada garis perbatasan Yaman semata.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan rudal balistik tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai targetnya.
"Tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut," ujar pihak koalisi mengonfirmasi aksi pertahanan mereka, dikutip dari Reuters.
Meski demikian, ledakan dahsyat tetap terdengar warga hingga memicu kepulan asap pekat di sekitar Bandara Internasional King Khalid. Rekaman visual mengindikasikan adanya titik api di area yang diduga merupakan fasilitas penyimpanan bahan bakar aviasi.
Selain membidik pusat pemerintahan, armada drone Houthi turut menggempur instalasi raksasa energi Saudi Aramco di kawasan pesisir Yanbu. Penyerangan di pusat ekspor Laut Merah ini diakui kelompok tersebut sebagai aksi balasan atas serangan udara di Sanaa.
Pemerintah Arab Saudi mengklaim berhasil mematahkan serangan serupa yang diarahkan ke wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu. Warga di kawasan terdampak sempat menerima peringatan darurat sebelum status aman akhirnya dirilis pada Sabtu pagi.
Eskalasi bertubi-tubi ini memperparah gangguan pada alur pelayaran internasional yang sebelumnya sudah tertekan di Selat Hormuz. Jalur distribusi minyak mentah Teluk kini membentang di bawah bayang-bayang blokade laut yang dipaksakan milisi Yaman tersebut.
Mengapa Houthi Menjadi Sekutu Iran yang Paling Ditakuti?
Penguasaan geografis di wilayah barat laut Yaman menjadikan Houthi sebagai aset paling bernilai dalam poros perlawanan bentukan Iran. Kelompok ini memegang kendali atas kehidupan lebih dari 70 persen populasi Yaman, termasuk pusat pemerintahan di Sanaa.
Kedudukan geopolitik di tepi Selat Bab al-Mandab memberi Houthi daya tawar luar biasa untuk mengunci arus lalu lintas kapal tanker. Sejak pertengahan Juli, hampir seluruh armada pengangkut minyak Saudi terpaksa menghindari kawasan perairan vital tersebut.
Tidak hanya bergantung pada pengiriman senjata utuh dari Tehran, Houthi berhasil membangun jaringan penyelundupan komponen mandiri melalui kapal-kapal tradisional. Kondisi ini membuat struktur militer mereka tetap tangguh dan mampu pulih dengan cepat meski terus digempur.
Persenjataan mereka makin canggih berkat adopsi teknologi drone serat optik yang kebal dari gangguan sinyal pemancar jamming. Bahkan dalam kurun waktu belakangan, kelompok ini mengklaim sukses menjatuhkan sejumlah armada unmanned aerial vehicle (UAV) canggih milik AS dan Saudi.
Benteng pertahanan alami berupa pegunungan terjal dan jaringan gua bawah tanah semakin mengokohkan kedudukan militer Houthi di lapangan. Restrukturisasi organisasi secara cepat pasca-gugurnya sejumlah pejabat sipil membuktikan ketahanan struktur komando kelompok ini.
Pertikaian terbuka antara Arab Saudi dan Houthi memuncak sejak kelompok tersebut menggulingkan pemerintah resmi Yaman pada akhir 2014. Saudi kemudian memimpin koalisi militer Arab untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah Yaman sekaligus membendung pengaruh Iran di perbatasannya.
Selama bertahun-tahun, peperangan ini berkembang dari konflik domestik menjadi perang perwakilan (proxy war) skala besar antara Riyadh dan Tehran. Houthi secara konsisten memanfaatkan wilayah strategis Laut Merah untuk menekan Arab Saudi agar mencabut embargo ekonomi dan melonggarkan pembatasan penerbangan.
Eskalasi terbaru pada September 2026 ini menunjukkan bahwa upaya diplomasi maupun tekanan militer belum berhasil melumpuhkan kekuatan Houthi. Kehadiran mereka sebagai sekutu terdekat Iran tetap menjadi faktor paling menentukan dalam peta stabilitas keamanan serta ekonomi di Timur Tengah.