- Wibi Andrino meninjau krisis air bersih di Pulau Kelapa dan Pulau Panggang.
- Pemerintah mengirim bantuan darurat 6.000 liter air bersih per hari akibat kerusakan fasilitas SWRO dan BWRO.
- Pembangunan SWRO SPAL-D ditargetkan selesai Oktober 2026 dan peningkatan kapasitas BWRO rampung awal Desember 2026.
Suara.com - Akses pemenuhan kebutuhan primer warga di sudut terluar ibu kota kini tengah menghadapi ganjalan pelik.
Pasokan air bersih untuk warga di Pulau Kelapa dan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, mengalami keterbatasan akibat gangguan fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) serta Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO).
Menyikapi nestapa tersebut, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino langsung terjun membedah jalan keluar bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, Sudin SDA, PAM JAYA, hingga pihak kelurahan.
Wibi menegaskan, pemenuhan sarana vital ini semestinya bisa dinikmati secara adil tanpa terhalang sekat wilayah kepulauan.
“Air bersih bukan kemewahan. Ini hak dasar warga,” katanya, Rabu (23/9/2026).
Sebagai ikhtiar darurat, pertemuan lintas instansi tersebut menyepakati pengiriman bantuan air bersih sebanyak 6.000 liter per hari untuk masing-masing pulau terdampak.
Selain penanganan kilat, proyek pembangunan SWRO SPAL-D di kedua pulau tersebut ditargetkan tuntas pada Oktober 2026.
Kapasitas mesin BWRO di Pulau Kelapa pun bakal dinaikkan sebesar 2.500 liter per jam dengan target pemanfaatan pada awal Desember 2026.
Legislator NasDem itu berjanji bakal mengawal proses penanganan ini hingga tuntas demi terwujudnya kesetaraan layanan bagi warga pesisir.
Di akhir penjelasannya, ia mengingatkan agar orientasi pembangunan fasilitas dasar di Jakarta tidak terus terpusat di kawasan megah perkotaan.
“Jakarta bukan hanya Sudirman-Thamrin. Ada Pulau Kelapa, Pulau Panggang, dan seluruh Kepulauan Seribu,” tegas Wibi.