- Basarnas melanjutkan pencarian tujuh korban hilang KM Arupadatu I melalui mekanisme operasi rutin di berbagai wilayah.
- Identitas kru bernama Surakman terungkap di Pulau Enggano melalui pencocokan tes DNA oleh Polda Banten.
- Kapal cepat peliput Gunung Anak Krakatau tersebut dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda sejak September 2026.
Suara.com - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan proses pencarian terhadap korban hilang kontak kapal cepat KM Arupadatu I di perairan Selat Sunda untuk meliput Gunung Anak Krakatau tetap berjalan.
Langkah ini terus dilakukan menyusul teridentifikasinya salah satu kru kapal, Surakman (60), dari jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Kekinian masih tersisa 5 jurnalis dan 2 kru atau ABK yang belum ditemukan.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan, bahwa pencarian korban kekinian dialihkan ke mekanisme operasi rutin di wilayah-wilayah terkait setelah operasi gabungan khusus Banten-Lampung dinilai sudah tidak efektif.
"Sampai sekarang tetap dilakukan pencarian lanjutan. Karena memang operasi kan dialihkan kepada operasi rutin," ujar Syafii di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Ia menambahkan, koordinasi dan pergerakan di lapangan terus disesuaikan dengan perkembangan informasi, termasuk penyisiran di sekitar perairan Bengkulu dan Pulau Enggano.
"Dan sekarang diperbesar, bahwa, eh, kayak misalkan yang ada di Bengkulu juga melaksanakan operasi rutin diarahkan ke Pulau Enggano sana. Jadi tetep, tetep jalan," tegasnya.
Menanggapi pertanyaan terkait pemfokusan area ke Pulau Enggano pasca-penemuan jenazah tersebut, Syafii meluruskan bahwa petugas tidak hanya berfokus pada satu titik.
Jenazah tersebut sebenarnya sudah ditemukan sejak September lalu dan sempat dimakamkan karena belum ada pihak keluarga yang mengenali ciri fisiknya saat itu.
"Sebenarnya tidak fokus, karena apa? Korban yang ditemukan kan sebenarnya ditemukan tanggal sepuluh, sebelas. Dan itu sudah dimakamkan," jelasnya.
Kepastian identitas korban baru terungkap setelah Polda Banten melakukan pencocokan sampel DNA antemortem dan postmortem.
"Dari data-data, mulai dari pakaian, semuanya, udah ditunjukkan ke keluarganya, dari keluarga korban nggak ada satu pun yang mengakui. Tapi pada saat diambil... tes DNA baru cocok. Nah, baru sekian lama ini baru digali lagi, sekarang udah diserahkan ke keluarganya, ya," pungkasnya.
Sebelumnya, KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, sejak Senin (7/9/2026).
Hingga kini, Tim SAR di berbagai daerah tetap bersiap memantau dan mengumpulkan informasi lanjutan terkait korban lain yang belum ditemukan.