China Jadi Sumber Terbesar Emisi SF6 Dunia, Klaim Daur Ulang Dipertanyakan

Jum'at, 25 September 2026 | 14:48 WIB
Pemandangan dari udara sebuah gardu induk di Zhongwei, Tiongkok, pada 29 Juni 2025. Sumber: Yuan Hongyan/Xinhua via Getty Images

Suara.com - Di balik capaian China sebagai salah satu raksasa energi terbarukan dunia, ada persoalan emisi yang jarang disorot. Jaringan listrik negara itu menjadi sumber utama emisi sulfur heksafluorida (SF6), salah satu gas rumah kaca paling kuat di dunia.

SF6 merupakan senyawa sintetis yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mudah terbakar. Selama puluhan tahun, gas ini digunakan industri listrik sebagai isolator pada peralatan tegangan tinggi.

Namun, ketika terlepas ke atmosfer, dampaknya terhadap iklim sangat besar. SF6 memiliki kemampuan memerangkap panas 24.300 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dan dapat bertahan di atmosfer hingga sekitar 1.000 tahun.

Menurut studi yang terbit di Nature Communications pada 2024, lebih dari separuh emisi SF6 global berasal dari China. Emisinya hampir berlipat ganda sepanjang 2011-2021. Pada 2021, China melepaskan sekitar 5.100 metrik ton SF6 ke atmosfer, setara dengan emisi tahunan sekitar 29 juta mobil berbahan bakar bensin.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan setelah konsentrasi SF6 di atmosfer global mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1998.

"Ini benar-benar seperti kebakaran level tiga alarm jika Anda melepaskan gas itu ke atmosfer alih-alih mendaur ulangnya," kata Deborah Ottinger, mantan analis emisi gas rumah kaca berfluor di Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), menanggapi investigasi Inside Climate News.

"Ini adalah hal yang sangat jelas bisa segera diterapkan."

Klaim Resmi vs Fakta di Lapangan

Para pekerja melakukan perawatan di sebuah gardu induk di Nanjing, Tiongkok, pada 22 Oktober 2024. Sumber: Costfoto/NurPhoto via Getty Images

Kementerian Ekologi dan Lingkungan China (MEE) mengklaim perusahaan listrik negara itu mendaur ulang atau memiliki kapasitas untuk mendaur ulang 90 persen limbah gas SF6. Namun, analisis Inside Climate News menemukan angka sebenarnya hanya sekitar 30 persen.

Padahal, meningkatkan tingkat daur ulang hingga 90 persen diperkirakan tidak membutuhkan biaya besar. Berdasarkan ratusan dokumen pemerintah, laporan tahunan perusahaan listrik, studi ilmiah, serta wawancara dengan akademisi dan pakar kebijakan, Inside Climate News memperkirakan China dapat mendaur ulang tambahan sekitar 1.400 metrik ton SF6 per tahun.

Langkah tersebut berpotensi memangkas hampir sepertiga emisi SF6 China dari seluruh sektor, dengan biaya sekitar US$6 juta per tahun. Nilai itu hanya sebagian kecil dari investasi tahunan sekitar US$70 miliar untuk jaringan listrik China.

State Grid Corporation of China dan China Southern Power Grid, dua perusahaan listrik milik negara yang memasok listrik ke hampir seluruh penduduk China, tidak menanggapi temuan tersebut. MEE dan Kedutaan Besar China di Washington juga tidak memberikan tanggapan.

Belajar dari Jerman

China sebenarnya bisa belajar dari pengalaman Jerman. Pada akhir 1980-an, perusahaan kimia Solvay mulai menyadari bahaya SF6 dan bekerja sama dengan perusahaan listrik Eropa untuk mendaur ulang gas tersebut, alih-alih melepaskannya ke atmosfer.

Upaya itu berkontribusi pada penurunan emisi SF6 dari peralatan listrik di Jerman dan Amerika Serikat hingga lebih dari dua pertiga pada 2015.

Hermann Kraehling, mantan pemimpin tim asesmen lingkungan Solvay yang terlibat dalam upaya tersebut, mengatakan kolaborasi lintas pihak menjadi kunci keberhasilan. Ia mengapresiasi pembangunan energi terbarukan China, tetapi menilai kegagalan mengendalikan emisi SF6 sebagai "bencana".

"Jika Anda mampu menyatukan semua pemangku kepentingan, Anda tidak hanya punya peluang besar untuk berhasil, tapi juga peluang besar untuk diterima," ujar Kraehling.

Sinyal Kebijakan Mulai Muncul

Tanda perubahan kebijakan mulai terlihat. Pada Desember lalu, MEE memberikan insentif berupa kredit karbon bagi perusahaan listrik yang mendaur ulang lebih dari 90 persen limbah SF6. Pada Juli, pemerintah China untuk pertama kalinya juga memasukkan pengelolaan SF6 dalam rencana pengurangan gas rumah kaca non-CO2 sebesar 30 juta ton setara CO2 pada 2030.

Matthew Rigby, profesor kimia atmosfer di University of Bristol, mengingatkan besarnya dampak SF6 terhadap iklim.

"Ini praktis gas rumah kaca terburuk dari segi potensi pemanasan global dan masa hidupnya," katanya. "Begitu sudah ada di atmosfer, ia akan tetap di sana selamanya dalam skala waktu manusia."

Kini, tantangannya adalah memastikan kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk mengurangi emisi SF6.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com