Gebrakan Angkutan Massal Jakarta: Lintasan LRT Dibidik 75 Kilometer dan Rute MRT Berlipat Ganda

Jum'at, 25 September 2026 | 15:16 WIB
Pramono Anung. (Suara.com/Adiyoga)
BACA 10 DETIK
  • Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan target perluasan MRT dan LRT di New York.
  • Pemprov DKI menargetkan perluasan jaringan MRT menjadi 46,5 kilometer dan LRT hingga 75 kilometer.
  • Proyek transportasi massal ini bertujuan melayani empat juta komuter serta mengatasi krisis iklim.

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membeberkan target besar perluasan jaringan Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Raya Terpadu (LRT) di pentas global.

Langkah strategis tersebut dipaparkan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat menghadiri forum Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat, baru-baru ini.

Jaringan lintasan MRT Jakarta dibidik melesat dari 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034 mendatang demi memperluas daya jangkau mobilitas publik.

Selain moda bawah tanah, rute LRT Jakarta juga diproyeksikan bakal membentang hingga 75 kilometer pada 2029.

Akselerasi proyek infrastruktur ini disiapkan guna memfasilitasi pergerakan sekitar empat juta komuter yang memadati Jakarta dari kawasan penyangga pada jam sibuk.

Pramono menegaskan komitmen ibu kota dalam mengubah kultur bertransportasi warga agar bersedia beralih dari kepemilikan kendaraan pribadi.

Penumpang menunggu kedatangan rangkaian kereta LRT Jakarta di Stasiun LRT Manggarai, Jakarta, Rabu (16/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

“Kami sedang mengubah cara masyarakat bergerak melintasi Jakarta. Kami ingin menyediakan alternatif yang andal dan terjangkau selain kendaraan pribadi, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi,” ujarnya dalam keterangan pers resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Saat ini, tingkat keterhubungan antarmoda di Jakarta, mulai dari MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga kereta komuter, sudah menyentuh 93 persen.

Armada ramah lingkungan pun kian diperbanyak melalui pengoperasian 500 bus listrik dari total 4.792 armada Transjakarta yang mengaspal hingga 2026.

Menurut Pramono, pembenahan transportasi massal bukan semata-mata demi mengurai sumbatan lalu lintas, melainkan bagian krusial dari penanganan krisis iklim.

Kehadiran integrasi transportasi publik diyakini mampu menekan emisi karbon sekaligus mewujudkan ruang kota yang jauh lebih sehat dihuni.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com