Saran Pakar ke Prabowo Soal Karhutla: Water Bombing itu Tidak Efektif, Pak Presiden

Jum'at, 25 September 2026 | 18:24 WIB
Presiden Prabowo Subianto diskusi bersama sejumlah akademisi dari berbagai lembaga riset dan perguruan tinggi yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 24 September 2026. [Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden]
BACA 10 DETIK
  • Profesor Yulianto S. Nugroho menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa metode water bombing untuk mengatasi kebakaran lahan gambut dinilai tidak efektif.
  • Diskusi penanganan lahan gambut dan potensi karhutla tersebut berlangsung bersama para akademisi di Istana Merdeka, Jakarta, pada hari Kamis, 24 September 2026.
  • Hasil penelitian menunjukkan pencegahan dini dan pendeteksian titik panas menggunakan teknologi menjadi solusi penanganan lahan gambut yang paling efektif.

“Dan prediksi yang dilakukan Dr. Bagus mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk kita memperkirakan berapa lama kondisi darurat itu eh mungkin saja terjadi,” kata Yulianto

Dr. Bagus Muljadi, akademisi dari Nottingham University, sebelumnya mengatakan, Indonesia adalah global ecosystem chokepoint. Menurutnya, tanpa Indonesia, tidak mungkin dunia bisa secara akurat menghitung siklus karbon.

“Kita memegang nasib dari banyak bangsa sebenarnya, dan oleh karena itu tanggung jawab untuk memahaminya. Dan bagi seorang ilmuwan, kami ingin melaporkan apa sebenarnya cara kami untuk memahami,” kata Bagus dalam diskusi dengan Prabowo.

Dalam pemahaman dari lensa akademis, Bagus mengatakan gambut adalah ekosistem hidup yang paling sulit untuk dipahami. Sebabnya adalah variabel gambut yang ternyata banyak sekali.

“Curah hujan, neraca air, laju cepat atau lambat tanaman membusuk, beban mekanik atas bangunan yang didirikan di atasnya. Itu semua faktor-faktor yang membuat persamaan matematisnya sangat sulit untuk dipahami. Sangat sulit untuk dipahami,” kata Bagus.

Bagus kemudian menyampaikan dalam diskusi tersebut telah hadir para ilmuwan yang kompeten di bidang masing-masing yang bisa melakukan penelitian dari sudut pandang yang amat interdisipliner.

“Dan oleh karena itu kita di sini mau berdiskusi tentang tiga hal. Bagaimana kita melindungi dan membudidayakan gambut. Bagaimana kita memprediksi, memonitor, mendeteksi secara dini titik-titik kerawanan gambut. Dan apa yang kita harus lakukan kalau kebakaran sudah terjadi,” kata Bagus.

Diketahui, Prabowo mengundang 22 akademisi dari berbagai universitas baik dalam dan luar negeri ke Istana Merdeka dalam rangka diskusi terkait penanganan lahan gambut pada potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Kamis (24/9/2026).

Akademisi yang hadir, di antaranya Dr. Bagus Muljadi dari Nottingham University, Prof. Yulianto S. Nugroho dari Universitas Indonesia, Dr. Sigit Sutikno dari Universitas Riau, Prof. Indratmo Soekarno dari ITB, dan Prof. Ahmad Kurnain dari Universitas Lambung Mangkurat.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com