Akhirnya PBB Turun Tangan di Perang AS - Iran, Minta Rampungkan Konflik Selat Hormuz

Sabtu, 26 September 2026 | 13:16 WIB
logo PBB (Bernd Dittrich/Unsplash)

Suara.com - Iran menawarkan proposal penghentian konflik selama tujuh hari kepada Amerika Serikat untuk mengakhiri perselisihan militer sekaligus membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Tawaran diplomatik ini menjadi angin segar di tengah eskalasi pertempuran kawasan yang telah melumpuhkan rute energi global.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres langsung merespons langkah tersebut saat bertatap muka dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Jumat (25/9). Guterres menegaskan bahwa negosiasi terbuka merupakan satu-satunya jalan keluar untuk menyetop pertumpahan darah di Timur Tengah.

Inisiatif diplomasi ini menjadi momentum krusial untuk menguji komitmen kedua belah pihak dalam meredakan ketegangan. Masa depan stabilitas pasokan minyak dunia kini sangat bergantung pada respons pemerintah Amerika Serikat terhadap draf perdamaian tersebut.

Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa dokumen tertulis telah dikirimkan secara resmi kepada pihak Washington. Proses penyampaian draf perjanjian tersebut dilakukan melalui perantara diplomatik Pemerintah Qatar.

Araghchi memastikan rute perdagangan Selat Hormuz siap dioperasikan kembali secara normal jika syarat-syarat dalam proposal disetujui.

"Jika kondisi yang diperlukan terpenuhi, maka Selat Hormuz akan dibuka dalam waktu tujuh hari," tegas Araghchi.

Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan jawaban resmi atau tanggapan terbuka atas tawaran dari Tehran tersebut. PBB sendiri terus melobi semua pihak agar bersedia menahan diri dan kembali ke meja perundingan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menaruh perhatian besar pada jaminan keselamatan rute maritim vital di kawasan tersebut. PBB menilai pemulihan arus lalu lintas laut harus berlandaskan pada aturan hukum internasional yang berlaku.

"Sekjen PBB menekankan kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui dialog dan perundingan, dengan menghormati sepenuhnya hukum internasional, termasuk hak dan kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz," bunyi pernyataan resmi PBB.

Guterres menyuarakan kesiapan lembaganya untuk mengawal seluruh proses perundingan sampai mencapai kesepakatan final. PBB berkomitmen menyediakan ruang mediasi demi tercapainya perdamaian yang permanen di kawasan.

Konflik bersenjata ini bermula dari konfrontasi militer skala besar yang diluncurkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari lalu. Otoritas Iran melaporkan serangan udara dan darat tersebut telah menelan ribuan korban jiwa dari pihak sipil maupun militer.

Sebagai tindakan balasan, militer Iran membalas dengan meluncurkan gelombang serangan rudal serta drone ke berbagai titik strategis kawasan. Iran juga mengambil langkah drastis dengan memblokir akses pelayaran di Selat Hormuz yang memicu krisis energi dunia.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com