Negara Miskin Jadi yang Terakhir Rasakan Manfaat Net Zero: Kenapa?

Senin, 28 September 2026 | 16:14 WIB
Sebuah pohon soliter berdiri melawan lanskap yang retak dan kering di bawah langit berawan, menggambarkan kekeringan dan penggurunan. (dok. Pixabay)

Suara.com - Upaya dunia dalam menekan emisi gas rumah kaca hingga mencapai net zero ditujukan untuk menghambat pemanasan global. Sayangnya, hal tersebut tidak serta-merta menghapus ketimpangan dampak krisis iklim yang telah terjadi.

Mengutip Guardian, Kamis (24/9), kelompok ilmuwan iklim dari Australia menemukan bahwa ketimpangan ini tidak secara otomatis hilang meskipun emisi global mencapai net zero.

Dalam penelitian tersebut yang terbit di jurnal Environmental Research Letter, menunjukkan masyarakat di negara-negara miskin, terutama di wilayah tropis, justru berpotensi menjadi kelompok yang paling terakhir untuk merasakan manfaat tersebut. Hal ini berarti menambah durasi pemanasan global yang dialami mereka.

Sebagai ketua tim yang berasal dari University of Melbourne, Dr. Andrew King bersama rekan-rekannya mengkaji terkait perubahan suhu yang dapat meningkat setelah emisi global mencapai net zero.

Mereka menerapkan tiga rangkaian eksperimen pemodelan komputer dan membandingkan hasil perubahan suhu dengan Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara terkait.

Ditemukan ketimpangan pemanasan yang terjadi saat ini tidak akan langsung berbalik setelah dunia mencapai net zero.

Wilayah-wilayah tropis menghadapi peningkatan suhu yang lebih besar jika dibandingkan dengan kisaran suhu historisnya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan wilayah di lintang yang lebih tinggi, termasuk sejumlah negara kaya di Eropa dan Amerika Utara.

Dampak Pemanasan Tidak Hilang dalam Sekejap

King menerangkan bahwa pengurangan emisi hingga net zero bukan berarti dampak dari karbon yang sudah dilepaskan ke atmosfer ikut menghilang.

"Jika kita mengikuti jalur yang mendekati net zero, maka ketimpangan pemanasan yang kita lihat dalam pemanasan global saat ini akan terus berlanjut tanpa terkendali," kata King.

Menurutnya, negara-negara kaya yang menjadi penyumbang masalah terbesar bukanlah pihak yang mengalami dampak paling parah.

Justru wilayah yang kontribusinya terhadap pemanasan global cenderung sedikitlah yang dapat mengalami pemanasan paling menderita.

Hal tersebut memiliki kaitannya terhadap jumlah gas rumah kaca yang telah terkumpul di atmosfer sebelum dunia mencapai net zero. King menilai karbon yang telah dilepaskan dapat membuat dampak pemanasan global terus berlangsung dalam waktu yang panjang.

"Bahkan ketika kita mencapai net zero, kita sudah terlanjur melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer dan dampaknya akan berlanjut selama berabad-abad," jelasnya.

Maka dari itu, kecepatan mencapai net zero menjadi salah satu aspek penting dalam membatasi pemanasan jangka panjang. King memandang bahwa semakin cepat dunia mencapai kondisi tersebut, maka kecil pula pemanasan yang berpotensi terjadi sesudahnya.

Wilayah Tropis Cenderung Lebih Lama Mengalami Risikonya

Bahkan ketimpangan terhadap dampak tersebut juga berkaitan erat dengan karakteristik ekosistem di wilayah tropis.

Menurut King, sejumlah ekosistem tropis, termasuk di dalamnya ada terumbu karang, telah berevolusi dalam rentang suhu yang lebih sempit daripada ekosistem di wilayah lintang tinggi.

Fenomena tersebut berakibat pada perubahan suhu yang terus-menerus berlangsung ini dapat menambah tekanan lebih besar terhadap ekosistem tersebut. Dampaknya justru tidak hanya berakhir ketika emisi berhasil diatasi.

Melalui temuan ini membuktikan bahwa dalam mencapai net zero merupakan bagian krusial dari upaya membatasi perubahan iklim. Namun, perlu diingat, langkah tersebut tidak secara otomatis menghapus seluruh dampak yang telah terbentuk sejak lama.

Bagi negara dengan masyarakat yang berada di kawasan tropis, permasalahan ini tidak melulu mengenai seberapa cepat emisi global dapat ditekan. Ada persoalan terkait cara menghadapi pemanasan yang sudah terlanjur terjadi.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa dampak perubahan iklim di seluruh dunia ini memiliki dimensi waktu dan letak geografis yang berbeda.

Saat dunia bergerak menuju net zero, terdapat di dalamnya negara-negara dengan kontribusi emisi lebih kecil justru tetap mendapatkan risiko terhadap pemanasan dalam jangka yang tidak sebentar.

Semakin cepat emisi itu ditekan, membesar pula peluang untuk membatasi pemanasan dalam jangka panjang sekaligus mengurangi kesenjangan dampak iklim yang dirasakan pada berbagai wilayah di dunia.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com