3 Pemimpin Negara dengan Pendidikan di Bawah SMA: Muka Tebal Suka Tabrak Aturan dan Jahat

Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:48 WIB
Mantan diktator Uganda, Idi Amin Dada. (Foto: AFP)
BACA 10 DETIK
  • Gnassingbe Eyadema berhenti sekolah dasar, masuk militer, dan memimpin Togo dari 1967 hingga 2005.
  • Idi Amin berpendidikan terbatas, melakukan kudeta pada 1971, serta memerintah dan meneror Uganda hingga 1979.
  • Francisco Macias Nguema berpendidikan dasar, menjadi Presiden Guinea Khatulistiwa pada 1968, dan membangun rezim pembunuhan hingga digulingkan 1979.

Idi Amin: Pendidikan Terbatas Jadi Penguasa Uganda

Idi Amin menjadi salah satu simbol paling terkenal dari pemerintahan brutal di Afrika pada abad ke-20.

Amin lahir sekitar 1925 di Uganda. Masa kecilnya berlangsung dalam kondisi yang jauh dari pendidikan formal yang mapan.

Sejumlah catatan biografis menyebut Amin tidak memiliki pendidikan sekolah formal yang panjang.

Ia sempat memperoleh pendidikan dasar dan pendidikan agama Islam sebelum masuk ke lingkungan militer kolonial Inggris.

Pada Januari 1971, Amin menggulingkan Presiden Milton Obote melalui kudeta militer. Ia kemudian mengambil alih pemerintahan Uganda dan memimpin negara tersebut hingga 1979.

Human Rights Watch mencatat bahwa setelah berkuasa, Amin membentuk sejumlah aparat keamanan yang bertanggung jawab langsung kepadanya.

Dalam tahun pertama pemerintahannya saja, aparat tersebut diperkirakan membunuh sekitar 10.000 warga Uganda.

Francisco Macías Nguema: Pendidikan Dasar Bangun Rezim Teror

Francisco Macías Nguema menjadi presiden pertama Guinea Khatulistiwa setelah negara tersebut merdeka dari Spanyol pada 1968.

Berbeda dengan sejumlah pemimpin Afrika lain yang memiliki latar pendidikan universitas, Macías memperoleh pendidikan formal yang sangat terbatas.

Sebuah kajian akademik mengenai dinasti politik Guinea Khatulistiwa menyebut pendidikan formal Macías hanya sampai sekolah dasar Katolik di Mongomo.

Di sana ia belajar membaca dan menulis dalam bahasa Spanyol.

Dengan demikian, pendidikan formal Macías bahkan tidak mencapai jenjang SMP.

Human Rights Watch mencatat bahwa rezim tersebut sangat anti-intelektual.

Puluhan guru dan pejabat pendidikan dieksekusi antara 1969 dan 1976, sementara ratusan guru dipecat dan banyak sekolah akhirnya ditutup.

Ketika Macías akhirnya digulingkan pada 1979, Guinea Khatulistiwa berada dalam kondisi yang sangat buruk.

Human Rights Watch memperkirakan sekitar 20.000 orang telah terbunuh, sementara sekitar sepertiga dari populasi negara yang berjumlah sekitar 300.000 orang melarikan diri ke pengasingan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com