Eropa di Ambang Konflik Nuklir? Moskow Murka Atas Aksi Provokasi Paris

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 11:18 WIB
Serangan dalam perang Rusia-Ukraina [Istimewa]
BACA 10 DETIK
  • Rusia menyatakan siaga penuh pada Selasa (6/10/2026) setelah Prancis menguji coba rudal balistik nuklir M51.3 di Samudra Atlantik.
  • Presiden Emmanuel Macron menyaksikan langsung peluncuran tersebut untuk membuktikan efektivitas daya tangkal nuklir Prancis dalam aliansi NATO.
  • Kremlin menilai rencana perluasan payung nuklir Prancis dan penempatan aset militer di Eropa Timur sebagai ancaman nyata kedaulatan.

Suara.com - Rusia menyatakan berada dalam kondisi siaga penuh dan bersiap mengambil seluruh langkah penanganan yang diperlukan menyusul aksi militer Prancis melakukan uji coba peluncuran rudal balistik strategis berkemampuan nuklir. Kremlin menilai pengerahan dan penembakan senjata utama tersebut sebagai bentuk provokasi terbuka yang ditujukan langsung ke wilayahnya.

Langkah tegas Moskow merespons uji tembak perdana rudal balistik M51.3 tanpa hulu ledak yang dilepaskan dari kapal selam bertenaga nuklir Le Vigilant di Samudra Atlantik, Selasa (6/10/2026).

Peluncuran varian terbaru dari armada rudal strategis Prancis tersebut disaksikan secara langsung oleh Presiden Emmanuel Macron, yang menyebut latihan itu sebagai pembuktian nyata atas efektivitas daya tangkal nuklir negaranya.

Menanggapi demonstrasi kekuatan persenjataan Paris, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa eskalasi militer dan manuver demonstratif tidak akan menyelesaikan ketegangan di kawasan. Menurutnya, obsesi negara-negara Barat dalam memperkuat infrastruktur pertahanan berbasis konfrontasi dengan Rusia hanya akan membawa hubungan internasional ke titik buntu.

"Di tengah latar belakang tindakan agresif serta rancangan skenario semacam itu, Rusia kini berada dalam posisi siaga penuh," ujar Peskov, dikutip dari Reuters.

Sebagai satu-satunya anggota Uni Eropa di dalam aliansi NATO yang menguasai persenjataan nuklir mandiri, Prancis memang tengah gencar melakukan modernisasi kekuatan militernya. Pada tahun anggaran 2026, Paris mengalokasikan dana khusus hingga US$8,3 miliar (sekitar Rp147,7 triliun) untuk penguatan sistem penangkal nuklir, termasuk merancang skema kerja sama "pencegahan maju" bersama sejumlah negara mitra seperti Jerman, Belgia, Polandia, hingga Finlandia.

Perluasan Pengaruh dan Tensi Geopolitik Regional

Rencana perluasan jangkauan payung nuklir Prancis serta wacana penempatan aset strategis di dekat perbatasan Rusia kian memanaskan konstelasi keamanan Eropa Timur.

Tensi makin meningkat setelah parlemen Lithuania mencabut larangan konstitusional terkait penempatan senjata nuklir di wilayahnya, di mana Menteri Pertahanan Robertas Kaunas secara terbuka membuka peluang bagi pengerahan armada pertahanan udara Amerika Serikat.

Di saat yang sama, aliansi NATO juga dijadwalkan menggelar latihan pencegahan nuklir tahunan bertajuk Steadfast Noon yang dimulai pada 13 Oktober 2026 di Italia dengan melibatkan 17 negara anggota.

Rangkaian perkembangan militer ini berpotensi memicu perlombaan senjata baru di kawasan Eropa, di mana Rusia yang memegang cadangan hulu ledak nuklir terbesar di dunia memperingatkan bahwa setiap kehadiran senjata atom di sekitar perbatasannya akan direspon sebagai ancaman kedaulatan yang nyata.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com