Siswi SD 7 Tahun Meninggal di Madina, Kemen PPPA Minta Kasus Diusut Transparan

Jum'at, 09 Oktober 2026 | 17:24 WIB
ilustrasi jenazah bocah
BACA 10 DETIK
  • Kemen PPPA mendorong investigasi menyeluruh dan transparan atas kematian siswi SD di Mandailing Natal.
  • Polres Mandailing Natal menyelidiki penyebab kematian korban dan menelusuri indikasi tindak pidana terkait kasus tersebut.
  • Dinsos P3A Madina bersama Puskesmas Malintang memberikan pendampingan psikologis dan sosial kepada keluarga korban.

Suara.com - Kasus meninggalnya seorang siswi sekolah dasar berusia 7 tahun di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, menyita perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Pemerintah menegaskan penanganan kasus harus dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban sekaligus menelusuri dugaan tindak pidana.

Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Mandailing Natal untuk mengawal penanganan kasus tersebut.

"Kami menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga. Tidak ada kata yang mampu menggantikan kehilangan seorang anak. Kemen PPPA mendorong penanganan kasus ini dilakukan secara menyeluruh dan transparan, dengan mengedepankan pemulihan bagi keluarga yang ditinggalkan," ujar Arifah kepada wartawan, Jumat (9/10/2026).

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. (Suara.com/Lilis Varwati)

Saat ini, aparat Polres Mandailing Natal masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian siswi tersebut serta menelusuri ada atau tidaknya indikasi kekerasan maupun tindak pidana.

Di saat yang sama, tim Dinsos P3A Madina bersama Puskesmas Malintang telah menerjunkan personel untuk mendampingi keluarga korban. Pendampingan mencakup asesmen kebutuhan darurat serta identifikasi dukungan psikologis dan sosial yang diperlukan keluarga.

Arifah juga mengingatkan pentingnya peran lingkungan dalam pengasuhan dan perlindungan anak.

Ia meminta guru, orang tua, dan masyarakat sekitar untuk memperhatikan kondisi emosional anak. Sekolah dan rumah, menurutnya, harus menjadi lingkungan yang aman dari segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal.

"Anak butuh ruang untuk bercerita dan merasa dipahami. Mari kita pastikan setiap anak memiliki sosok orang dewasa yang bisa mereka percaya ketika merasa takut, sedih, atau sedang tidak baik-baik saja," tegasnya.

Kemen PPPA memastikan akan terus memantau penanganan kasus tersebut bersama kepolisian dan pemerintah daerah hingga penyebab pasti kematian korban terungkap.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com