Karhutla Meluas ke 26 Provinsi, Cak Imin Galang Bantuan Masker dan Air Bersih

Jum'at, 16 Oktober 2026 | 12:47 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. (Foto dok. Ist)
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Kehutanan mendeteksi 799 titik panas karhutla di Sumatera, Riau, dan Kalimantan pada Kamis, 15 Oktober 2026.
  • Pemerintah menggandeng sejumlah industri untuk menyalurkan bantuan masker dan air bersih bagi masyarakat terdampak di Sumatera dan Kalimantan.
  • Pakar paru Unair mengingatkan kelompok rentan agar membatasi aktivitas luar ruangan dan memakai masker yang menyaring partikel halus.

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Kepulauan Riau, dan Kalimantan. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Kamis (15/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 799 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Jumlah tersebut meningkat 427 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 372 titik.

Sementara itu, analisis citra satelit BMKG per 15 Oktober 2026 menunjukkan sebaran asap akibat karhutla telah meluas ke 26 provinsi di Indonesia. Kabut asap lintas batas (transboundary haze) juga mulai mencemari wilayah Singapura dan Malaysia.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengatakan pemerintah menggandeng sejumlah industri untuk membantu masyarakat terdampak karhutla. Salah satu upaya yang disiapkan adalah menggalang bantuan berupa masker dan air bersih.

"Kita juga tadi menyampaikan dan bersama-sama akan bahu-membahu berpartisipasi di dalam mengatasi kebakaran hutan. Salah satunya adalah kita akan menggalang pengiriman masker dan air bersih untuk masyarakat, yang selama ini juga kita lakukan," kata Cak Imin usai rapat koordinasi dengan Wakil Menteri Perindustrian di Kantor Kemenko PM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Ia menyebut bantuan tersebut terutama akan disalurkan ke wilayah Sumatera dan Kalimantan yang terdampak karhutla. Masker diharapkan membantu melindungi masyarakat dari paparan asap, sedangkan air bersih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Lonjakan titik panas dan meluasnya sebaran asap menjadi perhatian karena karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Pakar paru Universitas Airlangga (Unair), Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, sebelumnya mengingatkan bahwa bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan penyakit penyerta, serta pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus selama karhutla berlangsung. Mereka berisiko mengalami dampak kesehatan lebih berat akibat polusi udara.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat perlu meminimalkan paparan asap dengan memantau informasi kualitas udara, membatasi aktivitas fisik di luar ruangan, serta menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok dan obat nyamuk bakar.

Alfian juga menekankan pentingnya penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus, terutama bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

“Masker yang lebih efektif untuk menyaring partikel asap adalah N95, KN95, atau KF94 dengan syarat terpasang rapat di wajah. Masker bedah biasa perlindungannya terhadap PM2.5 lebih terbatas,” paparnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com