- Ustaz Abdul Somad mengecam pelaku karhutla dan menyebut petugas damkar yang gugur sebagai syahid.
- Asap karhutla meluas hingga Malaysia, memicu gugatan hukum warga terhadap pemerintah, serta diklaim BNPB.
- BNPB mengerahkan puluhan ribu personel dan armada udara untuk memadamkan ribuan titik karhutla.
Suara.com - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali memicu kabut asap pekat di berbagai daerah memunculkan keprihatinan mendalam.
Bencana lingkungan yang berdampak pada kesehatan serta ruang hidup jutaan warga ini dinilai sebagai bentuk kezaliman terhadap sesama manusia dan ekosistem.
Pernyataan Ustaz Abdul Somad Terkait Karhutla
Dalam sebuah pesan dakwah yang diunggah melalui akun TikTok @the.salman8 (klik untuk menyaksikan video), Ustaz Abdul Somad menyampaikan teguran keras kepada para pelaku pembakaran hutan.
Ia menegaskan bahwa tindakan pengerusakan alam demi keuntungan pribadi merupakan dosa besar yang diancam dengan hukuman berat di akhirat.
"Orang yang membakar hutan, balasan untuk dia tidak ada lain, cuma ada satu. Neraka jahanam," tegas Ustaz Abdul Somad dalam kutipan dakwahnya.
Ia mengingatkan bahwa dampak asap karhutla menyengsarakan masyarakat luas sehingga para pelakunya tidak akan terlepas dari pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
"Siapa yang memotong sebatang pokok kayu, disungkurkan kepalanya ke dalam neraka jahanam oleh Allah," lanjutnya.
Ia menjabarkan bahwa hukuman tersebut ditujukan oleh orang yang memotong kayu tanpa ada tujuan, atau lebih spesifiknya pembakar hutan.
Petugas yang Gugur
Di sisi lain, Ustaz Abdul Somad memberikan penghormatan kepada para petugas pemadam kebakaran (damkar), serta satgas gabungan yang mempertaruhkan nyawa saat memadamkan api di lapangan. Bagi petugas yang meninggal saat menjalankan tugas tersebut, ia menilai pengorbanan mereka memiliki derajat yang tinggi.
"Berapa petugas pemadam yang bersemangat, tiba-tiba terkepung api kemudian meninggal. Insyaallah syahid mereka, insyaallah," ungkap Ustaz Abdul Somad.
Keberanian dan keikhlasan para petugas di tengah kepungan asap tebal dipandang sebagai amal mulia demi melindungi keselamatan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.
Warga Ajukan Gugatan
Laporan BBC News menyebut krisis kabut asap akibat karhutla telah meluas hingga menimbulkan dampak internasional. Asap pekat dari Sumatra dan Kalimantan mencapai negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, sehingga Pemerintah Johor di Malaysia memperpanjang penutupan sekolah.
Isu kabut asap lintas batas bahkan didorong oleh Menteri Luar Negeri Malaysia untuk dibahas dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN.
Di dalam negeri, gelombang protes masyarakat juga meningkat. Empat organisasi masyarakat sipil bersama warga terdampak di Kalimantan Barat mengajukan gugatan class action terhadap Presiden Prabowo Subianto dan 26 pejabat negara.
BBC News juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut hujan sebagai faktor penting dalam pemadaman karhutla.
"Masalah asap nanti kami minta masukan para profesor bagaimana. Saya kira memang benar ujungnya hanya hujan air ya," ujar Presiden di Istana Merdeka.
Pernyataan tersebut mendapat kritik dari kuasa hukum penggugat, Glorio Sanen.
"Ketika bermasalah, masak kami harus menunggu hujan baru pemerintah mengatakan kita selamat dari kabut asap? Kalau begitu, apa kerja pemerintah?" ujarnya.
Karhutla Menurut Laporan Pemerintah
Berdasarkan laporan resmi BPMI Sekretariat Presiden, pemerintah mengklaim terus mengoptimalkan operasi darat dan udara untuk menanggulangi karhutla di sejumlah provinsi prioritas.
Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto pada 12 Oktober 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, memaparkan perkembangan penanganan di lapangan.
"Untuk provinsi prioritas lahan gambut, ada di enam provinsi Bapak Presiden, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Untuk hari ini yang terbakar, yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare, yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah," ujar Suharyanto.
Ia juga menjelaskan adanya titik kebakaran baru di kawasan konservasi.
"Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana," lanjutnya.
Statistik Karhutla Menurut Data BNPB
Berdasarkan data terbaru pada Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB, total hotspot yang terdeteksi mencapai 7.678 titik dengan 176 fire spot. Kalimantan Tengah mencatat jumlah titik panas tertinggi sebanyak 3.835 titik, disusul Sumatra Selatan dengan 1.816 titik, Kalimantan Selatan 1.098 titik, serta Kalimantan Barat 422 titik.
Dalam 24 jam terakhir, luas lahan terbakar tercatat mencapai 570,09 hektare. Sumatra Selatan mendominasi dengan kontribusi 49 persen, diikuti Jambi 22 persen, Kalimantan Selatan 11 persen, Kalimantan Tengah 11 persen, dan Kalimantan Barat 7 persen.
Dari total area terdampak, tim satgas gabungan berhasil menangani 451,35 hektare lahan, terdiri atas 415,35 hektare melalui jalur darat dan 36 hektare melalui jalur udara. Sementara itu, 722,54 hektare lahan lainnya masih menjadi target pemadaman.
Untuk mengatasi kebakaran, sebanyak 53.848 personel gabungan diterjunkan ke lapangan. Jumlah tersebut terdiri atas 12.285 personel TNI, 8.950 pekerja perusahaan, 8.594 anggota Polri, 8.201 relawan, 4.767 pegawai pemerintah daerah, 4.749 anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), 3.472 personel BPBD, 1.434 Polisi Hutan, 1.376 petugas Manggala Agni, serta 20 perwakilan pemerintah pusat.
Penanganan melalui jalur udara didukung 46 unit armada dengan pencurahan 1.135.000 liter air untuk water bombing dan 6.800 kilogram bahan semai teknologi modifikasi cuaca.
Bencana ini juga menyebabkan kualitas udara berada pada kategori Berbahaya hingga Sangat Tidak Sehat, serta memangkas jarak pandang di sekitar bandara hingga hanya sekitar 0,2 kilometer di beberapa wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.