Klaim Swasembada Bukan Omon-Omon, Andre Rosiade Tantang Pengkritik Cek Gudang Bulog

Kamis, 22 Oktober 2026 | 18:57 WIB
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Andre Rosiade di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026). [Suara.com/Bagaskara]
BACA 10 DETIK
  • Anggota DPR RI Andre Rosiade menanggapi tudingan data palsu swasembada pangan di Kompleks Parlemen Jakarta pada Kamis (22/10/2026).
  • Andre menantang para pengkritik untuk memeriksa langsung ketersediaan stok beras yang melimpah di berbagai gudang Bulog daerah.
  • Pemerintah berhasil mencapai swasembada tanpa impor berkat kebijakan pembelian gabah petani seharga Rp6.500 dan pembenahan Bulog.

Suara.com - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, menanggapi santai kritik dan tuduhan sejumlah pihak yang menyebut klaim swasembada pangan pemerintah sebagai data palsu.

Ia justru menantang para pengkritik untuk melihat langsung ketersediaan stok pangan di lapangan.

Hal tersebut disampaikan Andre dalam diskusi bertajuk "Mengupas Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebijakan yang Berpihak Pada Rakyat, Ekonomi Kuat, Hingga Kemandirian Nasional" di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Andre menegaskan bahwa capaian swasembada pangan dan ketahanan nasional pada era Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar retorika, melainkan hasil kebijakan konkret yang berpihak kepada petani.

"Swasembada tuh tidak pakai narasi, tapi pakai fakta. Saya mau mengundang yang mengkritik bahwa kita swasembada itu data palsu, mari datang ke gudang Bulog masing-masing yang ada di berbagai kota/kabupaten maupun provinsi. Kita bisa melihat bagaimana gudang itu penuh, Pak," ujar Andre.

Ia mencontohkan kondisi gudang Bulog di Provinsi Sumatera Barat yang stok berasnya melimpah dan diperkirakan mencukupi hingga awal 2027. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti keberhasilan pengelolaan pangan nasional.

"Sampai Maret 2027 itu stok beras Sumatera Barat itu sangat cukup. Itu membuktikan bahwa memang kita swasembada. Sudah 8 komoditas kita swasembada. Bahkan kita mulai ekspor," tuturnya.

Andre menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari kebijakan strategis pemerintah yang berani membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 serta pembenahan internal Bulog yang kini berhasil mencatat surplus.

Ia membandingkan kondisi Indonesia saat ini dengan negara-negara tetangga yang petaninya tengah bergejolak. Ia juga menekankan bahwa Indonesia kini tidak lagi bergantung pada impor beras yang nilainya dahulu mencapai ratusan triliun rupiah per tahun.

"Sekarang kita gak impor lagi beras, Pak, Bu. Itu karena apa? Kebijakan pemerintah yang jelas berpihak kepada petani, ya, dan itu bukan hanya narasi omon-omon pidato, tapi direalisasikan dengan kebijakan," tegas Andre.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com