Kapal Pengangkut 1,16 Ton Ketamine di Belawan Sudah Dipantau Aparat Sejak Agustus

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 15:56 WIB
Kapal tanker MT Global 168 yang mengangkut 1,16 ton ketamine di Perairan Belawan, Sumatera Utara. (dok. ist)
BACA 10 DETIK
  • Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyatakan kapal MT Global 168 telah dipantau aparat gabungan sejak Agustus 2026.
  • Kapal tersebut diduga menyelundupkan 1,16 ton ketamine melalui jalur laut yang melintasi Malaysia, Portland, dan Laut Andaman.
  • Penyelundupan narkotika ini menggunakan modus pemindahan muatan antarkapal atau ship to ship di tengah laut.

Suara.com - Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan, kapal tanker MT Global 168 yang diduga mengangkut 1,16 ton ketamine di perairan Belawan, Sumatera Utara, telah masuk radar aparat gabungan sejak Agustus 2026.

Selama tiga bulan, tim analis dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai menelusuri pergerakan kapal tersebut sebelum akhirnya dilakukan pengungkapan dugaan penyelundupan narkotika melalui jalur laut.

“Sebagai catatan awal, tim analis dari BNN dan Bea Cukai sebenarnya telah memonitor kapal MT Global 168 ini sejak bulan Agustus 2026. Jadi sudah tiga bulan,” kata Suyudi dalam konferensi pers, Jumat (23/10/2026).

Menurut Suyudi, pengungkapan penyelundupan narkotika melalui jalur laut membutuhkan proses analisis dan pemantauan yang panjang. Aparat perlu mempelajari pola pergerakan kapal untuk mengidentifikasi dugaan aktivitas ilegal sebelum melakukan penindakan.

“Kita memang seperti itu, kita selalu menganalisa kapal itu tidak sebentar, tiga bulan, paling sebentar enam bulan,” jelasnya.

Kapal tanker MT Global 168 yang mengangkut 1,16 ton ketamine di Perairan Belawan, Sumatera Utara. (dok. ist)

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil penelusuran, MT Global 168 bertolak dari lokasi docking di Pasir Gudang, Johor, Malaysia. Pada September 2026, kapal tersebut terpantau bergerak menuju perairan Andaman setelah singgah untuk memenuhi kebutuhan operasional.

“Rutenya dilalui adalah dari Pasir Gudang menuju Portland untuk melakukan bunker atau mengisi air dan BBM. Setelah beberapa hari di Portland, kapal melanjutkan pelayaran menuju Laut Andaman untuk melakukan ship to ship guna menerima muatan ketamine,” ujar Suyudi.

Metode ship to ship merupakan pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lain di tengah laut. Menurut Suyudi, metode ini diduga dimanfaatkan jaringan penyelundup untuk memindahkan narkotika tanpa harus melewati pelabuhan secara langsung.

Ia menyebut praktik tersebut dapat melibatkan kapal-kapal yang bergerak dari sejumlah negara. Transaksi dan pemindahan muatan antarkapal juga dapat berlangsung di kawasan perairan strategis, seperti Laut Andaman dan Selat Malaka.

“Modus para penyelundup itu seperti itu, mereka datang dari beberapa negara, kadang dari wilayah-wilayah Laos dan sebagainya, kemudian mengadakan transaksi Laut Andaman atau juga bisa Selat Malaka, ship to ship dari kapal ke kapal,” kata Suyudi.

Dalam skema tersebut, satu kapal membawa barang, sedangkan kapal lain menerima muatan untuk melanjutkan pengiriman. Proses pemindahan dapat dilakukan berulang kali sehingga menyulitkan aparat melacak jalur distribusi narkotika.

“Ada kapal membawa barang, ada yang menerima, begitu habis nanti diisi lagi, terus saja begitu,” tandasnya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com