Gus Ipul Sebut Siswa Sekolah Rakyat Jember Korban Dugaan Pemukulan Sudah Kembali Sekolah

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 18:39 WIB
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). (Suara.com/Lilis)
BACA 10 DETIK
  • Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan korban dugaan kekerasan mahasiswa Unhan telah kembali sekolah pada Jumat, 23 Oktober 2026.
  • Keluarga korban menolak jalur damai dan melaporkan dugaan pemukulan tersebut kepada pihak Polres Jember untuk ditindaklanjuti.
  • Kementerian Sosial bersama pimpinan Unhan berupaya mendalami perbedaan keterangan untuk menyelesaikan insiden tersebut.

Suara.com - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi Jember, Jawa Timur, yang diduga menjadi korban kekerasan oleh mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan), kini sudah kembali mengikuti proses pembelajaran.

Gus Ipul menyampaikan perkembangan tersebut saat menanggapi kondisi siswa setelah muncul dugaan pemukulan di lingkungan Sekolah Rakyat Jember.

“Alhamdulillah, alhamdulillah anaknya juga sekarang sudah bisa mengikuti proses pembelajaran. Sudah bisa sekolah,” kata Gus Ipul di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

Meski siswa telah kembali belajar, Gus Ipul mengatakan pemerintah masih berupaya mendalami persoalan tersebut. Kementerian Sosial juga berkomunikasi dengan pimpinan Unhan untuk mencari solusi atas insiden yang memicu laporan dari keluarga siswa.

Keluarga salah satu korban berinisial P sebelumnya dikabarkan menolak jalur damai dan melaporkan dugaan pemukulan itu ke Polres Jember. Menanggapi hal tersebut, Gus Ipul mengatakan pemerintah menghormati sikap orang tua siswa dan berupaya mendampingi mereka dalam mencari jalan keluar untuk persoalan tersebut. 

Menurut Gus Ipul, juga masih terdapat perbedaan keterangan antara siswa dan mahasiswa Unhan terkait kejadian tersebut.

"Ini lagi kita ajak dialog untuk cari solusi. Ya, jadi kita sedang berkomunikasi juga dengan pimpinan Unhan. Karena memang ada salah pengertian mungkin ya, di antara mereka. Dan juga ada perbedaan pengakuan yang sekarang coba kita mitigasi, kita carikan jalan keluar," imbuhnya. 

Gus Ipul menyebutkan bahwa terdapat prosedur mitigasi dan pengawasan di Sekolah Rakyat, termasuk penggunaan CCTV. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, kejadian yang dipersoalkan berlangsung di luar area yang terpantau kamera pengawas.

Karena itu, ia menilai kronologi kejadian masih perlu digali lebih dalam agar perbedaan keterangan para pihak dapat ditelusuri. Gus Ipul berharap kasus tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan pendampingan siswa Sekolah Rakyat, terutama dalam penerapan kedisiplinan di lingkungan asrama.

Ia menekankan bahwa pembinaan siswa selama ini dilakukan melalui pendampingan dan pendekatan rehabilitasi, dengan mengedepankan empati agar siswa dapat mengikuti aturan sekolah.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com