- Survei IPO menunjukkan elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 33,7 persen dan mengungguli Prabowo Subianto.
- Wakil Ketua Umum PAN Bima Arya Sugiarto menegaskan partainya tetap berkomitmen mengawal pemerintahan Prabowo hingga akhir masa jabatan.
- Direktur Eksekutif IPO menilai tingginya elektabilitas tersebut memunculkan potensi Dedi Mulyadi berpindah partai atau maju Pilpres 2029.
Suara.com - Partai Amanat Nasional (PAN) menegaskan komitmennya untuk tetap mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga akhir masa jabatan. Penegasan itu disampaikan menyusul hasil survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM jauh mengungguli Prabowo dalam bursa calon presiden 2029.
Wakil Ketua Umum PAN Bima Arya Sugiarto mengatakan, hasil survei tersebut perlu dicermati terlebih dahulu, terutama dari sisi kredibilitas lembaga dan ketepatan metodologi yang digunakan.
"Nah, jadi sebelum memberikan penilaian, ya kita harus pastikan lembaga surveinya itu metodologinya tepat atau tidak. Itu pertama," kata Bima Arya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Dalam survei IPO, Dedi Mulyadi meraih elektabilitas 33,7 persen dalam simulasi spontan atau top of mind. Angka itu lebih dari dua kali lipat elektabilitas Prabowo yang berada di angka 14,5 persen.
Meski demikian, Bima menegaskan PAN belum mengubah sikap politiknya. Sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, PAN masih berfokus mendukung dan mengawal jalannya pemerintahan Prabowo.
"PAN ini kan juga hari ini ada dalam komitmen koalisi pemerintahan. Jadi, fokus PAN kali ini ya tentu adalah mengawal pemerintahan Prabowo sampai di ujung kira-kira gitu. Ya, belum ada skenario yang lain. Belum ada skenario yang lain," tegas Bima.
Elektabilitas KDM Ungguli Prabowo
Hasil survei IPO menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas dalam simulasi spontan calon presiden 2029 dengan elektabilitas 33,7 persen. Prabowo menyusul dengan 14,5 persen, disusul mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebesar 11,3 persen.
Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono meraih 4,3 persen dan Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen.
Keunggulan Dedi juga terlihat dalam simulasi tertutup dengan daftar nama kandidat. Ia memperoleh elektabilitas 32 persen, mengungguli Prabowo yang meraih 18,4 persen dan Anies sebesar 12,6 persen.
Survei nasional IPO tersebut menggunakan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden, dengan margin of error 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menilai tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi berpotensi menjadi ujian politik bagi Partai Gerindra. Pasalnya, Dedi merupakan kader partai yang dipimpin Prabowo.
Menurutnya, Gerindra akan menghadapi pilihan strategis menjelang Pilpres 2029, yakni mendorong Dedi sebagai penerus Prabowo atau kembali mengusung presiden petahana untuk periode kedua.
Dedi Kurnia Syah juga menilai tingginya elektabilitas dapat memperkuat peluang seorang tokoh untuk bersaing dalam kontestasi politik.
“Secara politik, saya kira semua orang yang yang yang ada dalam daftar presentasi saya ini adalah punya kemungkinan bahwa mereka semua adalah berhasrat untuk mendapatkan kekuasaan, ya tidak terkecuali dengan Dedi Mulyadi,” ujarnya dalam sesi rilis hasil survei dan diskusi daring, Sabtu (24/10/2026).