- Mendikdasmen Abdul Mu'ti membeberkan lima kategori siswa rentan perundungan.
- Kategori tersebut meliputi perbedaan kondisi fisik, kemampuan intelektual di bawah rata-rata, dan status sosial ekonomi keluarga tidak mampu.
- Faktor pemicu lainnya adalah perbedaan gender serta perilaku siswa yang dinilai tidak sama dengan teman sejawatnya.
Suara.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, membeberkan lima kategori siswa yang paling rentan menjadi korban kekerasan dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Hal tersebut disampaikannya dalam acara seminar dan diskusi publik yang digelar oleh Kosgoro 1957 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Berdasarkan kajian yang dilakukan, Mu'ti menjelaskan bahwa faktor kondisi fisik dan kemampuan intelektual menjadi dua penyebab utama siswa menjadi sasaran perundungan.
"Murid-murid yang memiliki fisik yang berbeda dari umumnya. Misalnya kalau dia fisiknya terlalu kecil, itu biasanya sering menjadi sasaran kekerasan. Atau terlalu jangkung, atau terlalu besar, dan faktor-faktor lain yang mengarah kepada fisik," kata Mu'ti.
Kemudian yang kedua, kata dia, soal murid yang berintelektual.
"Murid yang punya kemampuan akademik di bawah rata-rata cenderung menjadi sasaran perundungan. Dan sebagian dari mereka berdua ini adalah, dua kategori ini adalah anak-anak yang berkebutuhan khusus," tuturnya.
Selain fisik dan intelektual, faktor kondisi sosial ekonomi, gender, hingga perilaku siswa yang dinilai berbeda dari teman sejawatnya juga menjadi pemicu kerentanan perundungan di sekolah.
"Yang ketiga, adalah karena faktor sosial. Banyak korban dari keluarga tidak mampu. Murid-murid dari keluarga tidak mampu itu sangat rentan terhadap perundungan," kata dia.
"Kasus di Pemalang yang terakhir misalnya, itu kan dari keluarga desil 1 korbannya," lanjutnya.
Lalu menarik soal gender, dimana kata Mu'ti, justru murid yang berperilaku feminim atau sebaliknya malah rentan.
"Kemudian gender. Yang paling banyak menjadi korban adalah anak perempuan. Kemudian yang kelima, itu perilaku. Jadi ada murid yang punya perilaku yang agak beda. Misalnya yang suka mengadu ke gurunya... atau misalnya agak melambai," tambah Mu'ti.
Ia menekankan bahwa kelima indikator tersebut merupakan temuan dominan dari hasil telaah pemerintah terhadap penanganan kasus perundungan anak saat ini.