Viral Kuburan Dibongkar Paksa di Bekasi, Buntut Saling Ejek Hasil Pilkades

Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:43 WIB
Saling ejek usai Pilkades Bekasi memicu pembongkaran dan pemindahan makam leluhur antarwarga. (IG)
BACA 10 DETIK
  • Beda pilihan Pilkades Bekasi memicu pembongkaran makam leluhur akibat aksi saling ejek antarwarga.

  • Aparat TNI dan Polri berhasil memediasi kedua keluarga untuk menyepakati perdamaian secara kekeluargaan.

  • Kerangka leluhur yang telanjur dibongkar akhirnya dipindahkan ke TPU Kampung Cabang Dua.

Suara.com - Perselisihan sengit pascapemilihan kepala desa  atau Pilkades di Kabupaten Bekasi memaksa satu keluarga memindahkan kerangka leluhur mereka dari tanah milik tetangga. Gesekan politik lokal yang berujung aksi bongkar makam ini akhirnya mereda setelah aparat keamanan mengintervensi kedua pihak.

Aksi nekat mencabut nisan dan menggali kembali jasad yang terkonfirmasi sudah tertanam dua dekade lebih memperlihatkan betapa rapuhnya kerukunan warga akibat kontestasi politik lokal. Fenomena menyedihkan ini membuktikan sensitivitas emosional pendukung pilkades sanggup merusak ikatan sosial bahkan hingga ke urusan tempat pemakaman.

Pemicu utama eskalasi konflik ini berawal dari lontaran kalimat sindiran bernada merendahkan yang diucapkan pendukung calon pemenang usai perhitungan suara. Kekecewaan akibat kekalahan politik yang dipadu rasa tersinggung mendalam membuat pemilik lahan mengambil tindakan drastis terhadap makam keluarga rivalnya.

Peristiwa dramatis ini bermula di Desa Lenggahsari, Kecamatan Cabangbungin, ketika hasil Pemilihan Kepala Desa pada 20 September 2026 menetapkan Ahmad Maulana sebagai kepala desa terpilih. Kekalahan kontestan nomor urut 2, Rusman, mendadak memanas saat Asmara selaku pendukung paslon nomor urut 1 melontarkan ejekan verbal.

Asmara melayangkan ucapan bernada meremehkan yang memicu amarah keluarga Rusman seusai pengumuman kemenangan.

"Man, kamu pake calon-calonan segala, gak gablek duit aja," ujar Asmara, dikutip dari CNA.

Keluarga Rusman merasa harga diri mereka terinjak-injak akibat sindiran tersebut lalu menuntut Asmara menyampaikan permohonan maaf terbuka di hadapan keluarga besar. Penantian selama tiga hari tanpa ada iktikad baik atau permohonan maaf dari pihak Asmara membuat pihak Rusman hilang kesabaran.

Tanpa kompromi lagi, pemilik tanah langsung mendatangi areal pemakaman keluarga di Kampung Cap Jaya untuk mencabut batu nisan dan membongkar area kuburan tersebut. Peristiwa penggalian makam secara sepihak itu sempat direkam warga hingga videonya mendadak tular di berbagai platform media sosial.

Takut konflik makin melebar, jajaran kepolisian dari Polsek Cabangbungin bersama unsur TNI langsung bergerak cepat meredam ketegangan di lokasi kejadian. Bhabinkamtibmas dan Babinsa segera mengumpulkan kedua belah pihak untuk merumuskan ikrar perdamaian secara terbuka.

Aparat membenarkan bahwa insiden memprihatinkan tersebut dipicu murni oleh tensi tinggi persaingan politik antarwarga di tingkat desa.

"Permasalahan tersebut sudah diselesaikan melalui mediasi oleh kedua belah pihak yang dilaksanakan langsung oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa setempat," ujar Alex, Selasa (27/10).

Kesepakatan damai berhasil dicapai dan kedua pihak berjanji menuntaskan segala dendam politik demi menjaga kondusivitas lingkungan.

"Ini kronologinya seperti itu, tapi kami sudah pertemukan kedua belah keluarga itu. Mereka sudah damai dan berjanji tidak ada konflik berkepanjangan lagi," kata Alex.

Meskipun kesepakatan damai telah ditandatangani, kerangka leluhur keluarga Asmara tidak mungkin dikembalikan ke areal pemakaman milik keluarga Rusman. Pihak keluarga Asmara memilih memindahkan sisa jasad leluhurnya menuju tempat pemakaman umum (TPU) resmi di Kampung Cabang Dua.

Kepolisian mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tetap menahan diri dan tidak menjadikan perbedaan aspirasi politik sebagai pemicu keretakan hubungan bermasyarakat. Warga juga diminta bijak menyikapi unggahan media sosial serta menghindari aksi sepihak yang melanggar hukum.

"Kami meminta masyarakat untuk tidak mudah terpancing provokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menghindari tindakan sepihak yang dapat memperkeruh keadaan," tegasnya.

Konflik antarwarga di Desa Lenggahsari ini berawal dari pelaksanaan Pilkades serentak yang diikuti oleh tiga pasangan calon, yakni Ahmad Maulana (nomor urut 1), Rusman (nomor urut 2), dan Suherman (nomor urut 3). Kemenangan Ahmad Maulana memicu aksi saling ejek antara Asmara dan Rusman yang berujung pada tuntutan permohonan maaf. Keretakan makin meruncing karena makam leluhur keluarga Asmara telah berada di atas tanah milik keluarga Rusman di Kampung Cap Jaya selama lebih dari 20 tahun.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com