- Gubernur Sulawesi Selatan menilai program Sekolah Rakyat membantu menekan angka kemiskinan ekstrem melalui penyediaan akses pendidikan gratis bagi anak kurang mampu.
- Kemensos mencatat Sekolah Rakyat telah menjangkau 44.000 siswa di 182 titik seluruh Indonesia selama satu tahun pelaksanaan program tersebut.
- Program ini juga memberikan rehabilitasi sosial, bantuan modal usaha, dan perbaikan rumah bagi ribuan orang tua siswa di berbagai daerah.
Suara.com - Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyebut program Sekolah Rakyat membantu menekan kemiskinan ekstrem di wilayahnya. Program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu itu dinilai membuka kesempatan belajar sekaligus meringankan beban keluarga berpenghasilan rendah.
“Ini sangat membantu untuk mengurangi angka kemiskinan ekstrem. Itu yang pertama,” kata Andi usai menghadiri peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (28/10/2026).
Andi mengatakan, jumlah Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan yang saat ini sembilan titik direncanakan bertambah menjadi 15 titik. Jika setiap sekolah menampung sekitar 1.000 siswa, program tersebut berpotensi menjangkau 15.000 anak dari keluarga kurang mampu.
Menurut dia, anak-anak yang sebelumnya terkendala biaya, putus sekolah, atau hidup dalam keterbatasan kini memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan, tinggal di asrama, dan mendapatkan pendampingan serta fasilitas belajar yang memadai.
Andi juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul atas penyelenggaraan program tersebut.
Ia menyebut angka kemiskinan di Sulawesi Selatan telah mengalami penurunan sekitar 15.000 lebih. Keberadaan Sekolah Rakyat menurutnya akan semakin membantu mengurangi dan memutus mata rantai kemiskinan di wilayahnya.
“Sekarang sudah turun kemiskinan kita sekitar 15.000-an lebih yang turun, dan ini luar biasa sebenarnya karena penurunan-penurunan seperti itu, itu tidak mudah karena kita tahu kondisi global, ekonomi, dan sebagainya,” ujarnya.
Selain Sekolah Rakyat, Andi menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut membantu masyarakat, khususnya keluarga pada kelompok ekonomi terbawah atau desil 1 hingga desil 4 dan 5.
Sekolah Rakyat Jangkau 44 Ribu Siswa
Kementerian Sosial (Kemensos) mencatat, setelah berjalan satu tahun, Sekolah Rakyat telah menjangkau 44 ribu siswa di 182 titik sekolah di Indonesia.
Program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Sekolah Rakyat menerapkan sistem penjangkauan berbasis data. Para pendamping sosial mendatangi keluarga kurang mampu secara langsung di 497 kabupaten/kota. Dari proses tersebut, pemerintah menemukan lebih dari 180 ribu anak usia sekolah telah bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Siswa yang dijangkau menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, serta pemetaan bakat melalui Talent DNA. Dari 11 ribu anak yang telah dipetakan, empat dari 10 anak diketahui memiliki bakat kuat di bidang sains dan teknologi.
Dalam penyelenggaraannya, Sekolah Rakyat didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Dari 100 titik Sekolah Rakyat permanen, sebanyak 93 titik telah beroperasi dan tujuh lainnya masih dalam pembangunan.
Selain itu, terdapat 82 Sekolah Rakyat rintisan.
Kemensos juga melaporkan lebih dari 10.000 rumah orang tua siswa telah diperbaiki, lebih dari 11.000 orang tua menerima bantuan modal usaha, dan lebih dari 9.000 orang tua mendapatkan layanan rehabilitasi sosial melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).
Pemberian akses pendidikan dan pemberdayaan keluarga tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memutus kemiskinan antargenerasi.