- Rusia semakin agresif merekrut warga asing untuk berperang di Ukraina dengan iming-iming gaji
- Iming-iming penghasilan besar menyimpan risiko maut. Warga asing justru berpotensi dikirim ke garis depan paling berbahaya
- Perekrutan Rusia semakin meluas secara global. Menurut data Ukraina, hampir 46.000 warga asing dari 151 negara telah dikontrak untuk berperang
Suara.com - Rusia dilaporkan semakin agresif merekrut warga negara asing untuk bergabung dalam perang melawan Ukraina.
Pihak RUsia dikabarkan mengiming-imingi gaji selangit untuk warga negara asing jika bergabung dengan mereka, meski resikonya sangat besar, bisa tewas dalam pertempuan seperti yang dialami oleh WNI bernama Muhammaf Taufiq.
Muhammad Taufiq dilaporkan tewas saat menjalani pertempuran pertamanya bersama pasukan pendudukan Rusia di Ukraina.
Pria kelahiran Sorong, Papua Barat, pada 1978 itu direkrut menjadi tentara bayaran Rusia dan bertugas sebagai penembak senapan mesin.
GUR mengungkapkan, perekrut Rusia diduga menemukan Taufiq setelah pria tersebut mengirimkan curriculum vitae (CV) untuk mencari pekerjaan.
Taufiq kemudian diduga tergiur janji penghasilan hingga memutuskan berangkat ke Moskow.
Lantas berapa gaji yang ditawarkan pihak Rusia untuk warga negara asing?
Mengutip dari laporan Slovoidilo, seorang warga Thailand pernah mendapat iming-iming bayaran mencapai USD 70.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar serta janji memperoleh kewarganegaraan Rusia.
Informasi ini diungkap oleh pihak Ukraina, Menurut Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina (CPD), iklan perekrutan untuk bergabung dengan militer Rusia mulai beredar di ruang informasi Thailand.
Dalam materi promosi itu, calon anggota militer dijanjikan bayaran sekitar USD 70.000 untuk menandatangani kontrak.
Warga negara asing ini juga ditawari penempatan di wilayah belakang medan perang atau posisi nonpertempuran serta kemudahan mendapatkan kewarganegaraan Rusia.
Namun, CPD memperingatkan bahwa kenyataan yang dihadapi warga asing yang direkrut Rusia kerap berbeda dari janji tersebut.
Menurut CPD, para tentara bayaran asing dari negara-negara Global South justru sering ditempatkan di bagian garis depan paling berbahaya.
Mereka juga dilaporkan tidak selalu menerima pembayaran seperti yang dijanjikan.
"Untuk mengompensasi kerugian besar dan berkurangnya jumlah warga Rusia yang bersedia berperang, Kremlin semakin aktif merekrut orang asing, tanpa segan menggunakan manipulasi dan penipuan terang-terangan," demikian pernyataan CPD.