Selanjutnya, Gus Ipul juga mengajak meneladani sikap rela berkorban para pahlawan. Gus Ipul menjelaskan, setelah Indonesia merdeka, banyak pahlawan tidak mengejar kekayaan maupun jabatan. Sebagian dari mereka bahkan kembali menjalani profesi semula sebagai petani, nelayan, maupun pelayan masyarakat di daerah masing-masing.
Tak kalah penting, nilai kedisiplinan para pahlawan juga harus diteladani. Kedisiplinan para pahlawan, kata Gus Ipul, tidak hanya terlihat dari ketepatan waktu atau kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dari sikap menjaga amanah dan membedakan kepentingan negara dengan kepentingan pribadi.
“Para pahlawan juga disiplin dalam menjaga harta mereka. Mereka memisahkan mana harta negara dan mana harta pribadi. Itulah luar biasanya para pahlawan kita,” ungkapnya.
Ajakan meneladani nilai-nilai yang diwariskan juga datang dari Ketua Umum Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Prof Meutia Farida Hatta Swasono. Dia berharap generasi muda tidak sekadar mengenal pahlawan nasional melalui catatan sejarah, tetapi juga memahami dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan.
Menurutnya, setiap pahlawan nasional memiliki peran dan perjuangan masing-masing dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, pertahanan, sosial budaya, kemasyarakatan, hukum, hingga pendidikan. Meski memiliki latar belakang perjuangan yang berbeda, mereka dipersatukan oleh semangat pengabdian serta kecintaan terhadap bangsa dan tanah air Indonesia.
“Kami sebagai keluarga mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh orang tua dan leluhur kami. Kecintaan mereka kepada rakyat dan tanah air Indonesia menjadi nilai-nilai yang kami catat, kami tulis dalam memorabilia, dan kami simpan agar cita-cita, semangat, serta perasaan cinta tanah air dan bangsa tetap terjaga,” ujar Meutia.
Putri proklamator Indonesia, Mohammad Hatta ini menjelaskan, salah satu upaya IKPNI dalam memperkenalkan warisan perjuangan tersebut dilakukan melalui pameran yang menampilkan buku-buku dan berbagai memorabilia peninggalan para pahlawan nasional. Pameran ini menjadi sarana edukasi agar masyarakat, terutama anak-anak muda dan siswa Sekolah Rakyat agar dapat mengenal lebih dekat sejarah sekaligus nilai-nilai perjuangan para pahlawan.
Meutia menegaskan, kepahlawanan tidak semata-mata berbicara tentang sosok yang tercatat dalam buku sejarah. Lebih dari itu, hal terpenting adalah memahami semangat, pengorbanan, keberanian, dan kecintaan mereka terhadap Indonesia yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan saat ini.
“Pahlawan itu tidak hanya ada di dalam sejarah, tetapi yang lebih penting adalah nilai-nilai dan semangat yang ada pada diri mereka masing-masing. Itu bisa dibaca melalui buku, tetapi juga akan terus kami sosialisasikan,” tuturnya.
Acara Malam Peringatan Hari Pahlawan diisi dengan berbagai penampilan. Mulai dari grup angklung IKPNI, hingga drama musikal siswa-siswi Sekolah Rakyat yang berkolaborasi dengan aktor Aryo Wahab serta IKPNI. Gus Ipul dan seluruh tamu yang hadir tampak terpukau dan bangga dengan penampilan para murid dalam drama musikal itu. Ia bahkan sampai mengacungkan jempolnya sebagai bentuk pujian.
Tak hanya itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Sigit Purnomo (Pasha) yang hadir dalam acara tersebut juga ikut menghibur para tamu dengan menyumbangkan suara merdunya bersama sang istri Adelia Wilhelmina. Ia membawakan tiga lagu dan sempat menyapa siswa-siswi Sekolah Rakyat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Penasihat DWP Kemensos Fatma Saifullah Yusuf, Wakil Penasihat DWP Kemensos Intan Agus Jabo, Sekjen Kemensos M Hasan Chabibie, Dirjen Dayasos Kemensos Mira Riyati, Dirjen Rehsos Kemensos Supomo, serta keluarga para pahlawan yang tergabung dalam IKPNI. ***