- Eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan petinggi Polri diduga menyadap Presiden Prabowo Subianto menggunakan Pegasus.
- Pegasus adalah perangkat lunak mata-mata kelas militer buatan perusahaan Israel, NSO Group.
- Perangkat lunak ini mampu meretas ponsel target secara diam-diam tanpa perlu mengklik tautan apapun.
Suara.com - Kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto yang diduga dilakukan eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan sejumlah petinggi Polri membuat publik penasaran alat apa yang mereka gunakan untuk memata-matai orang nomor 1 di Indonesia tersebut.
Terkuaknya kasus penyadapan Prabowo ini memiliki kaitan dengan investigasi panjang Suara.com bersama konsorsium IndonesiaLeaks sekitar tiga tahun silam.
Investigasi tersebut menelusuri perburuan perangkat spionase mutakhir kelas militer asal Israel, Pegasus.
Pegasus, perangkat lunak mata-mata (spyware) buatan perusahaan teknologi Israel NSO Group, memiliki kemampuan menyusup ke telepon seluler tanpa harus diketahui pemiliknya.
Teknologi ini bahkan dapat mengakses pesan pribadi, mengaktifkan kamera dan mikrofon, hingga melacak lokasi seseorang dari jarak jauh.
Kemampuan tersebut membuat Pegasus berbeda dari metode penyadapan konvensional.
Perangkat ini dirancang untuk mengambil alih akses ke ponsel target melalui celah keamanan sistem operasi, termasuk teknik peretasan yang dikenal sebagai zero-click exploit.
Menurut penjelasan The Times of Israel, Pegasus merupakan salah satu produk unggulan NSO Group yang dikembangkan untuk kebutuhan pengawasan oleh lembaga pemerintah.
Bisa Sadap Ponsel Tanpa Korban Mengeklik Tautan
Salah satu kemampuan Pegasus yang paling banyak mendapat perhatian adalah teknologi zero-click.
Melalui metode ini, perangkat lunak mata-mata dapat menyusup ke ponsel tanpa mengharuskan pemiliknya mengeklik tautan, mengunduh aplikasi, atau membuka lampiran mencurigakan.
Serangan tersebut memanfaatkan celah keamanan pada sistem operasi maupun aplikasi yang terpasang di perangkat.
Dalam kondisi tertentu, celah itu memungkinkan penyerang menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh.
Metode ini membuat serangan lebih sulit dikenali karena korban tidak selalu melakukan tindakan yang dapat memicu infeksi.
Bahkan, pemilik ponsel bisa saja tidak menyadari bahwa perangkatnya telah menjadi sasaran peretasan.