Cuekin Buzzer, Bagaimana Taktik Janonisme Kultural di Brasil Bisa Ditiru di Indonesia?

Jum'at, 06 November 2026 | 16:54 WIB
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva
BACA 10 DETIK

Janonisme kultural diadopsi netizen Indonesia untuk melawan dominasi buzzer dan misinformasi digital.

Kemenangan Lula di Brasil didorong oleh pasukan digital WhatsApp dan aksi akar rumput.

Sinergi dunia maya dan aksi nyata menjadi kunci utama keberhasilan gerakan politik modern.

Suara.com - Janonisme kultural kini mulai ramai dibahas warganet Indonesia sebagai jurus jitu untuk membungkam dominasi buzzer politik di dunia maya. Taktik komunikasi digital ala politikus Brasil André Janones ini dinilai sangat efektif untuk meredam disinformasi sekaligus merebut kembali ruang publik.

Strategi tersebut lahir dari kemenangan gemilang Luiz Inácio Lula da Silva dalam pemilu Brasil berkat sebuah kanal WhatsApp bernama Laskar Lula. Grup percakapan ini sukses menjaring 10,8 juta pengikut hanya dalam hitungan pekan untuk membalikkan keadaan politik.

Keberhasilan Luiz Inácio Lula da Silva membalikkan peta politik Brasil membuktikan bahwa serangan pasukan buzzer di media sosial bisa dilumpuhkan total. Pembentukan kanal WhatsApp "Laskar Lula" menjadi senjata utama untuk merebut kembali simpati pemilih dalam hitungan minggu.

Kanal akar rumput tersebut menggalang kekuatan hingga menembus 10,8 juta pengikut secara instan. Kehadiran gerakan ini sekaligus mematahkan dominasi digital kelompok kanan yang selama bertahun-tahun menguasai WhatsApp dan Telegram.

Diceritakan BBC, Politikus André Janones memimpin operasi jaringan digital ini dengan membagikan konten siap sebar untuk dikirimkan pengikut kepada kerabat mereka. Strategi komunikasi langsung ke ruang percakapan warga ini sangat relevan untuk ditiru dalam peta politik Indonesia.

Kunci utama taktik ini terletak pada pemberian misi harian yang jelas kepada para pendukung. Janones memacu ritme kerja pasukannya lewat pesan-pesan bernada mendesak agar tagar dan video kampanye terus memuncaki perbincangan.

Ia sering memberi instruksi kepada para pendukungnya, yang ia sebut sebagai "pasukan", untuk membuat video kampanye terbaru viral atau mendorong sebuah tagar agar ramai diperbincangkan.

"Teman-teman, ini mendesak!", "Jangan tidur dulu!", "Tidak boleh makan sebelum misi selesai!", dan "Saya masih punya satu tugas lagi sebelum kalian dibubarkan!" menjadi beberapa instruksi yang ia sampaikan.

Puncak mobilisasi digital ditandai dengan aksi siaran langsung maraton selama 24 jam penuh tepat sebelum pemungutan suara dimulai. Langkah nekat tersebut berhasil menggoyang basis dukungan lawan yang sebelumnya merasa di atas angin.

Pendekatan agresif Janones sempat memicu kekhawatiran dari internal Partai Pekerja karena dianggap terlalu berberentetan. Meski demikian, kepemimpinan digital tersebut terbukti ampuh meruntuhkan narasi buzzer yang selama ini mengepung pemilih.

Dalam pidato kemenangannya, Lula menyebut Janones sebagai "Jenderal kita" dan berterima kasih kepadanya karena telah "membangkitkan semangat pasukan kita setiap hari".

Para pengamat menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak cuma bersandar pada unggahan di layar ponsel. Keunggulan Lula terletak pada kemampuannya memadukan percakapan media sosial dengan pergerakan nyata di tingkat lokal.

Pakar politik Denilde Holzhacker menilai perubahan strategi kampanye menjadi faktor penting di balik kebangkitan Lula.

Menurut dia, kandidat dari Partai Pekerja itu tidak hanya mengandalkan interaksi di dunia maya, tetapi juga berhasil menghubungkan kampanye digital dengan mobilisasi akar rumput secara langsung.

Holzhacker mengatakan, tim kampanye Lula meningkatkan aktivitas di tingkat lokal sekaligus menyesuaikan pesan-pesan politiknya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com