Cegah Disinformasi, UNESCO Perkuat Penggunaan AI yang Etis bagi Kreator Konten

Jum'at, 06 November 2026 | 16:37 WIB
Cegah Disinformasi, UNESCO Perkuat Penggunaan AI yang Etis bagi Kreator Konten
BACA 10 DETIK
  • UNESCO dan Mata Media Nusantara melatih 30 kreator konten Indonesia untuk memverifikasi informasi dan menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
  • Pelatihan dalam Local Media Summit 2026 ini mengenalkan metode SIFT guna meningkatkan kredibilitas produksi konten digital.
  • Kegiatan tersebut bertujuan membangun ekosistem informasi yang inklusif serta memperkuat kolaborasi antara media lokal dan komunitas kreatif.

Suara.com - UNESCO dan Mata Media Nusantara menggelar pelatihan kepada 30 kreator konten dan perwakilan media dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi). Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperkuat keterampilan peserta dalam memverifikasi informasi, menggunakan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab, serta menghasilkan konten yang kredibel bagi audiens daring.

Kreator konten digital, termasuk blogger, podcaster, influencer, dan media independen, memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk narasi daring dan opini publik. Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan AI dalam produksi konten, kreator konten menghadapi berbagai tantangan terkait akurasi, kredibilitas, dan kepercayaan audiens.

Inisiatif ini diselenggarakan melalui Lokakarya Konten: Memproduksi Konten yang Dapat Dipercaya, Menarik, dan Berkelanjutan di Era AI sebagai bagian dari Local Media Summit 2026 dan Pekan Literasi Media dan Informasi Global (Global Media and Information Literacy Week) 2026.

Cegah Disinformasi, UNESCO Perkuat Penggunaan AI yang Etis bagi Kreator Konten

Dengan menggunakan Super Creators Toolkit dari UNESCO, para peserta mengikuti latihan praktis mengenai verifikasi informasi, penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab, serta pembuatan konten yang etis. Berdasarkan prinsip-prinsip Literasi Media dan Informasi (MIL) untuk pembuat konten digital, pelatihan ini berfokus pada produksi konten yang dapat dipercaya di era AI.

Para peserta diperkenalkan pada metode SIFT, pendekatan empat langkah untuk menavigasi informasi daring: Berhenti, Selidiki Sumbernya, Cari Liputan yang Lebih Baik, dan Telusuri Klaim, Kutipan, serta Media ke Konteks Aslinya. Mereka juga mengeksplorasi bagaimana pembuat konten dan media lokal dapat menggabungkan kekuatan mereka dalam pelaporan, penelitian, verifikasi fakta, dan penceritaan digital untuk meningkatkan kualitas dan kredibilitas informasi publik.

Selama lokakarya berlangsung, peserta mengikuti setiap sesi yang membahas pemanfaatan AI, verifikasi informasi, hingga aspek etika dalam produksi konten. Materi disampaikan melalui pemaparan dan latihan praktis agar peserta dapat memahami penerapannya dalam aktivitas produksi konten sehari-hari. Pembahasan juga mengaitkan penggunaan teknologi dengan tantangan yang dihadapi kreator dalam menjaga akurasi dan kredibilitas informasi di ruang digital.

Tidak hanya itu, peserta berkesempatan berbagi pengalaman, menyampaikan pertanyaan, serta membahas berbagai persoalan yang muncul ketika menggunakan AI untuk membuat dan menyebarkan konten. Interaksi antara peserta dari komunitas kreator dan media lokal juga membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai praktik pelaporan, pemeriksaan fakta, dan penyajian informasi yang lebih mudah dipahami audiens.

“Kreator konten memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap cara masyarakat memahami dunia di sekitar mereka. Seiring AI menjadi bagian dari produksi konten sehari-hari, pengaruh tersebut disertai tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas. Kreator konten perlu memiliki keterampilan untuk mempertanyakan apa yang mereka lihat, memverifikasi informasi, dan mengambil keputusan yang terinformasi mengenai apa yang mereka bagikan,” kata Maki Katsuno-Hayashikawa, Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta.

Sementara itu, Suwarjono, Direktur Utama Mata Media Nusantara, menyoroti bahwa gangguan informasi dan meningkatnya penggunaan AI menghadirkan tantangan unik bagi para pembuat konten dan praktisi media.

“Saat ini, para pembuat konten beroperasi dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks. Penyebaran informasi yang salah dan disinformasi yang cepat, ditambah dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan, mengharuskan para kreator konten untuk memperkuat keterampilan literasi media dan informasi mereka, memverifikasi informasi secara lebih ketat, serta menjunjung tinggi standar etika dalam memproduksi dan membagikan konten. Kompetensi-kompetensi ini sangat penting untuk mempertahankan kepercayaan publik dan memastikan bahwa platform digital memberikan kontribusi positif bagi masyarakat yang terinformasi dan demokratis,” kata Suwarjono.

Inisiatif ini juga mendorong kolaborasi berkelanjutan antara peserta dari media lokal dan komunitas kreator konten. Melalui kemitraan ini, media lokal dapat berkontribusi dalam proses pelaporan, penelitian, dan verifikasi fakta, sementara kreator konten dapat mengubah informasi menjadi format yang lebih mudah diakses, menarik, dan relevan bagi audiens digital.

Melalui inisiatif ini, UNESCO dan Mata Media Nusantara turut berkontribusi pada pengembangan ekosistem informasi yang lebih inklusif, tangguh, dan dapat dipercaya, sekaligus memperkuat kapasitas media lokal dan pembuat konten dalam menjunjung tinggi informasi yang dapat diandalkan serta integritas di era kecerdasan buatan (AI).

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com