/
Rabu, 22 Februari 2023 | 09:44 WIB
TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid (FB)

NTB.Suara.com - Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki satu pahlawan nasional bernama TGKH Muhammad Zainudin Abdul Majid yang berasal dari Pancor, Lombok Timur. 

Dilansir dari buku biografinya yang berjudul "Biografi TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia," Muhammad Zainuddin lahir di kampung Bermi, pancor pada 20 April 1908 dan meninggal pada 1997 dan memiliki nama kecil Muhammad Saggaf. 

Saggaf kecil sudah menunjukan tanda kecerdasannya di bidang agama. Dia belajar agama langsung dari ayahnya TGH Abdul Majid yang juga merupakan tokoh agama saat itu. Selain itu Saggaf juga belajar di sejumlah tuan guru ternama di Pancor.

Pada usia yang sangat belia, Saggaf dibawa ayahnya untuk menuntut ilmu di Mekah. Saggaf belajar di Madrasah Al-Shaulatiyah, sebuah sekolah Ahlussunnah Wal Jamaah tertua di Mekah yang sampai saat ini masih eksis. Di Shaulatiyah, Saggaf dikenal sebagai murid tercerdas, dia berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 6 tahun dari waktu normal 9 tahun . Zainuddin Menjadi lulusan tercepat pada masanya. 

Ketika belajar di Mekkah, dia diberikan nama baru oleh gurunya, sehingga namanya berubah menjadi Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Nama Zainuddin diambil dari seorang ulama di masjidil haram, Syekh Muhammad Zainuddin Sarawak. 


Sepulang dari tanah suci, Zainuddin memulai dakwahnya di kampung Bermi. Dakwahnya yang mencerahkan dan keilmuannya yang dalam membuat masyarakat Lombok berduyun-duyun datang untuk belajar. 

Pada 1934, Zainuddin mendirikan pondok pesantren Al-Mujahidin di pancor. Ponpes ini menjadi pusat pembelajaran agama islam dan sekaligus pergerakan perjuangan kemerdekaan pada masanya. 

Nama Al-Mujahidin yang berarti pejuang sengaja dipilih Zainuddin untuk membangkitkan semangat nasionalisme masyarakat Lombok pada saat itu. Pondok ini cepat berkembang, masyarakat dari berbagai daerah di Lombok dan Sumbawa datang belajar. 

Setelah mengajar secara tradisional melalui ponpes Al-Mujahidin, Zainuddin kemudian mendirikan madrasah yang bernama Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI). Melalui madrasah NWDI, TGKH Zainuddin memperkenalkan sistem pembelajaran kelas yang saat itu masih langka di Lombok. 

Baca Juga: 4 Tips Menjaga Kesehatan saat Musim Hujan, Ingat 3M Plus

Sistem ini sempat ditentang oleh beberapa masyarakat pancor yang mencurigai sistem pembelajaran yang ditawarkan Zainuddin merupakan sistem pembelajaran ala barat dan menyebarkan ajaran Mu'tazilah dan wahabi. 

Isu itu pun menyebar dengan cepat di kalangan masyarakat, dan para tuan tanah yang sempat mewakafkan tanahnya untuk madrasah mencabut kembali wakafnya. TGKH Zainuddin juga dituntut mundur dari imam masjid jami pancor. Tokoh atau krama desa pancor meminta Zainuddin memilih antara madrasah dan imam masjid. 

Berikut dialog antara krama desa pancor dan TGKH Zainuddin. 

Krama Desa Pancor  “Kami persilahkan kepada Tuan Guru untuk memilih. Apakah tetap Tuan Guru mendirikan madrasah atau apakah tetap menjadi imam  dan khatib di Masjid Jami’ Pancor. Jika Tuan Guru bersikeras ingin 
mendirikan madrasah, maka Tuan Guru dilarang menjadi imam  dan khatib”. 

TGKH Zainuddin menjawab “Saudara, saya tetap memilih untuk mendirikan madrasah. Sebab  tugas itu adalah fardhu ’ain. Karena setiap orang yang berilmu,  merupakan kewajibannya untuk mengajarkan ilmu yang  dimilikinya. Sedangkan menjadi imam dan khatib di masjid itu  adalah fardhu kifayah, artinya siapapun bisa untuk menjadi imam 
dan khatib. Nah, sudah jelas sekali hal ini. Dan saya akan memilih  yang fardhu ‘ain".

Load More