- Filsuf Jerman Jurgen Habermas wafat pada usia 96 tahun, meninggalkan pengaruh besar pada ilmu manajemen, khususnya CMS.
- Pemikiran Habermas merevolusi manajemen dengan menawarkan rasionalitas komunikatif sebagai alternatif rasio instrumental yang kolonialistik.
- Konsep Etika Diskursus Habermas mendorong studi organisasi menuju pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan membebaskan.
Menurut Habermas, rasionalitas manusia lahir dari proses komunikasi yang berhasil mencapai pemahaman bersama.
Dalam argumennya, potensi rasionalitas sebenarnya sudah melekat secara alamiah dalam praktik komunikasi sehari-hari. Rasionalitas komunikatif mengungkapkan norma-norma dan prosedur yang memungkinkan tercapainya kesepakatan, serta memandang nalar sebagai bentuk pembenaran publik.
Habermas berupaya merumuskan potensi tersebut secara eksplisit, dengan mengamati bagaimana individu yang kompeten dalam berbicara dan bertindak secara intuitif menguasai aturan-aturan berargumentasi.
Sumbangsih terbesar Habermas bagi CMS adalah pada kerangka berpikir yang menempatkan komunikasi, bukan komando, sebagai inti dari tindakan manusia.
Menurut pandangannya, tindakan komunikatif bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama (Verständigung), bukan sekadar keberhasilan teknis.
Ia memberikan para akademisi manajemen sebuah pisau analisis untuk membedah bagaimana bahasa dalam organisasi tidak pernah netral—ia bisa menjadi alat dominasi, tetapi juga bisa menjadi alat emansipasi.
fondasi Epistemologis CMS
Perawi CMS seperti Andreas Georg Scherer menegaskan bahwa Teori Kritis, terutama yang dikembangkan oleh Habermas, adalah fondasi filosofis terpenting dalam kemunculan CMS, bahkan mungkin lebih berpengaruh dibandingkan labor process theory atau teori pasca-strukturalisme.
Mengapa demikian? Tentu, karena Habermas memberi CMS legitimasi untuk tidak hanya menjadi kritik yang sinis, tetapi juga normatif.
Baca Juga: Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
Ia memperkenalkan gagasan tentang kepentingan konstitutif pengetahuan (knowledge-constitutive interests) yang terdiri dari tiga hal.
Pertama, kepentingan teknis (kerja) yang melahirkan ilmu empiris-analitis. Kedua, kepentingan praktis (interaksi) yang melahirkan ilmu historis-hermeneutik. Ketiga, kepentingan emansipatoris (kekuasaan) yang melahirkan ilmu kritis.
Bagi CMS, kerangka ini membuka mata bahwa praktik manajemen selama ini hanya berkutat pada kepentingan teknis (seperti: bagaimana meningkatkan produktivitas?) dan melupakan pertanyaan emansipatoris (seperti: mengapa struktur ini menindas? siapa yang diuntungkan?).
Habermas mengajarkan bahwa studi manajemen yang sejati harus berani memasuki ranah ketiga: membebaskan manusia dari alienasi yang diciptakan oleh struktur organisasi itu sendiri.
Etika Diskursus dan Demokrasi Organisasi
Salah satu konsep Habermas yang paling subur dalam literatur manajemen adalah Etika Diskursus (Diskursethik) dan gagasannya tentang Ruang Publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- Promo Alfamart Hari Ini 30 April 2026, Tebus Suka Suka Diskon 60 Persen
- 5 Rekomendasi HP POCO RAM Besar dan Kamera Bagus, Cek di Sini!
- 7 Cushion Wudhu Friendly dengan Hasil Flawless Seharian, RIngan dan Aman di Kulit
- Heboh Lagi, Ahmad Dhani Klaim Punya Bukti Perselingkuhan Maia Estianty dengan Petinggi Stasiun TV
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma
-
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
-
Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China
-
Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak
-
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
-
Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan
-
Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara