Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB
Akuat Supriyanto, S.S.,MBA, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran.
Baca 10 detik
  • Filsuf Jerman Jurgen Habermas wafat pada usia 96 tahun, meninggalkan pengaruh besar pada ilmu manajemen, khususnya CMS.
  • Pemikiran Habermas merevolusi manajemen dengan menawarkan rasionalitas komunikatif sebagai alternatif rasio instrumental yang kolonialistik.
  • Konsep Etika Diskursus Habermas mendorong studi organisasi menuju pengambilan keputusan yang lebih demokratis dan membebaskan.

Menurut Habermas, rasionalitas manusia lahir dari proses komunikasi yang berhasil mencapai pemahaman bersama.

Dalam argumennya, potensi rasionalitas sebenarnya sudah melekat secara alamiah dalam praktik komunikasi sehari-hari. Rasionalitas komunikatif mengungkapkan norma-norma dan prosedur yang memungkinkan tercapainya kesepakatan, serta memandang nalar sebagai bentuk pembenaran publik.

Habermas berupaya merumuskan potensi tersebut secara eksplisit, dengan mengamati bagaimana individu yang kompeten dalam berbicara dan bertindak secara intuitif menguasai aturan-aturan berargumentasi.

Sumbangsih terbesar Habermas bagi CMS adalah pada kerangka berpikir yang menempatkan komunikasi, bukan komando, sebagai inti dari tindakan manusia.

Menurut pandangannya, tindakan komunikatif bertujuan untuk mencapai pemahaman bersama (Verständigung), bukan sekadar keberhasilan teknis.

Ia memberikan para akademisi manajemen sebuah pisau analisis untuk membedah bagaimana bahasa dalam organisasi tidak pernah netral—ia bisa menjadi alat dominasi, tetapi juga bisa menjadi alat emansipasi.

fondasi Epistemologis CMS

Perawi CMS seperti Andreas Georg Scherer menegaskan bahwa Teori Kritis, terutama yang dikembangkan oleh Habermas, adalah fondasi filosofis terpenting dalam kemunculan CMS, bahkan mungkin lebih berpengaruh dibandingkan labor process theory atau teori pasca-strukturalisme.

Mengapa demikian? Tentu, karena Habermas memberi CMS legitimasi untuk tidak hanya menjadi kritik yang sinis, tetapi juga normatif.

Baca Juga: Jurgen Habermas, Filsuf Ternama dan Tokoh Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia

Ia memperkenalkan gagasan tentang kepentingan konstitutif pengetahuan (knowledge-constitutive interests) yang terdiri dari tiga hal.

Pertama, kepentingan teknis (kerja) yang melahirkan ilmu empiris-analitis. Kedua, kepentingan praktis (interaksi) yang melahirkan ilmu historis-hermeneutik. Ketiga, kepentingan emansipatoris (kekuasaan) yang melahirkan ilmu kritis.

Bagi CMS, kerangka ini membuka mata bahwa praktik manajemen selama ini hanya berkutat pada kepentingan teknis (seperti: bagaimana meningkatkan produktivitas?) dan melupakan pertanyaan emansipatoris (seperti: mengapa struktur ini menindas? siapa yang diuntungkan?).

Habermas mengajarkan bahwa studi manajemen yang sejati harus berani memasuki ranah ketiga: membebaskan manusia dari alienasi yang diciptakan oleh struktur organisasi itu sendiri.

Etika Diskursus dan Demokrasi Organisasi

Salah satu konsep Habermas yang paling subur dalam literatur manajemen adalah Etika Diskursus (Diskursethik) dan gagasannya tentang Ruang Publik.

Load More