- Empat penyakit katastropik dominan di Indonesia meliputi kanker, yang kasus kematiannya mencapai 59,24% berdasarkan data 2022.
- Faktor risiko utama kanker di Indonesia adalah konsumsi rokok (35,5%), kurang aktivitas fisik (21,5%), serta pola diet tidak seimbang.
- Pemerintah dinilai lamban dalam merealisasikan regulasi pengendalian GGL dan tembakau, sementara masyarakat perlu mitigasi mandiri.
Suara.com - Di Indonesia, bahkan di dunia, terdapat 4 (empat) jenis penyakit tidak menular berkarakter katastropik, yakni jantung koroner, kanker, stroke dan diabetes melitus.
Keempat jenis penyakit itu menjadi mesin pembunuh yang mengerikan, dan tragisnya ke-4 jenis penyakit katastropik itu kini telah menyasar generasi muda, usia di bawah 40 tahun.
Terkait dengan fenomena tersebut, salah satu jenis penyakit katastropik yang mengerikan itu adalah kanker (cancer). Oleh sebab itu menjadi isu krusial jika pada 04 Februari 2024 diperingati sebagai World Cancer Day alias Hari Kanker Sedunia.
Sebagai bentuk _public warning/, peringatan Hari Kanker se-Dunia, adalah sangat penting. Musababnya, saat ini di seluruh dunia, terdapat 8,2 juta manusia meninggal dunia akibat kanker setiap tahunnya, dan tragisnya empat juta di antaranya meninggal prematur (berusia 30 sampai 69 tahun).
Lalu bagaimana terkait penyakit kanker di Indonesia?
Berdasar data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan data Globocan pada 2022, terdapat 408.661 kasus kanker dan total kematian 242.099.
"Artinya, tingkat kematian penderita kanker di Indonesia mencapai 59,24 persen."
Prevalensi kanker di Indonesia pada 2023 berdasarkan data Kemenkes tersebut, berada di angka 1,2 per 1000 penduduk pada 2013, menjadi 1,8 per 1000 penduduk pada 2018.
Terdapat 5 (lima) jenis penyakit kanker yang dominan di Indonesia, yakni: kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker kolokteral dan kanker hati.
Baca Juga: Wamenkes Ungkap Kondisi Menyedihkan di Indonesia Akibat Kanker Serviks: 50 Persen Pasien Meninggal
Prevalensi kanker paru di Indonesia mencapai 8,8% dan menempati posisi ketiga sebagai jenis kanker paling banyak ditemukan di Indonesia, setelah kanker payudara (16,6%), kanker serviks (9,2%), kanker payudara: 16,6% dan kanker serviks: 9,2%
Kanker paru (lung cancer) merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita oleh laki-laki di Indonesia, dengan rata-rata usia diagnosis 58 tahun, yaitu 10 tahun lebih muda dibandingkan rata-rata global (68 tahun).
Fenomena tersebut dengan mudah bisa ditebak musababnya, yakni mayoritas laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok. Konkretnya dua dari tiga laki laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif. Alamaak.
Lalu apa faktor pemicu tingginya prevalensi penyakit kanker di Indonesia?
Secara general, gaya hidup dan pola konsumsi yang tidak sehat dari masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan generasi Z, menjadi pencetus utamanya.
Wujud gaya hidup tidak sehat itu antara lain: malas bergerak/berjalan kaki atau malas berolahraga. Bahkan menurut survei, orang Indonesia termasuk orang yang paling malas di dunia untuk berjalan kaki.
Berita Terkait
-
Beda Sariawan Biasa dan Gejala Kanker Mulut, Begini Penjelasannya
-
Alarm Kesehatan: Wamenkes Soroti Lonjakan Kasus Kanker Serviks di Usia 30-an
-
Kemenkes Siapkan Strategi Swab Mandiri untuk Perluas Deteksi Dini Kanker Serviks
-
Wamenkes Ungkap Kondisi Menyedihkan di Indonesia Akibat Kanker Serviks: 50 Persen Pasien Meninggal
-
Lompatan Layanan Kanker, Radioterapi Presisi Terbaru Hadir di Asia Tenggara
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
-
Obsesi Epstein Bangun 'Pabrik Bayi' dengan Menghamili Banyak Perempuan
-
5 HP Baterai Jumbo untuk Driver Ojol agar Narik Seharian, Harga mulai dari Rp2 Jutaan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
Terkini
-
Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan
-
Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara
-
Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan
-
Bukan Sekadar Bunuh Diri, Kematian Mahasiswi Unima adalah Femisida Tidak Langsung
-
Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
-
Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi
-
Politik Emansipatoris di Pesantren, Belajar dari KH Imam Jazuli
-
Dari Inspeksi ke Inspeksi, Sebuah Upaya Menjaga Kualitas Program MBG
-
Rantai Pasok Indonesia dalam Bayang Bencana Alam: Pelajaran dari Aceh dan Sumatera
-
Mengawal Tata Ruang Sumut demi Menjaga Keutuhan Ekosistem Batang Toru