Liberty Jemadu
Sabtu, 17 Oktober 2020 | 21:05 WIB
Ilustrasi sabuk keselamatan. (Pixabay/cfarnsworth)

Suara.com - Pemasok komponen otomotif Takata yang saat ini menggunakan nama Joyson Safety Systems Japan (JSSJ) dilaporkan telah memasok 9 juta sabuk keselamatan yang tidak memenuhi standar kualitas keamanan, kata pemerintah Jepang, Kamis (17/10).

Kementerian Transportasi Jepang mengatakan angka tersebut berdasarkan laporan yang diberikan oleh Joyson Safety Systems Japan (JSSJ). Dalam hal ini perusahaan telah memanipulasi data pengujian untuk memenuhi persyaratan keselamatan.

Oleh karena itu Kementerian Transportasi telah mengingatkan pihak pabrikan untuk mempersiapkan penarikan kembali (recall). Diperkirakan masalah ini akan berdampak terhadap 2 juta unit kendaraan di Jepang.

Seperti dilaporkan Nikkei Asia, JSSJ saat ini menguasai 40% pangsa pasar Jepang untuk bisnis sabuk kelamatan. Salah satu pembuat mobil terbesar di Jepang, Toyota Motor juga menggunakannya. Diduga JSSJ mengubah data agar sabuk keselamatan buatannya memenuhi persyaratan.

Selain itu, JSSJ memanipulasi data kekuatan pada sabuk keselamatan yang dibuat untuk kursi pengaman anak. Pelanggaran kemungkinan besar menyebabkan puluhan ribu kursi pengaman anak di pasaran tidak memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

"Kami tidak mengetahui adanya sabuk yang putus atau kecelakaan lainnya pada saat ini," kata seorang perwakilan JSSJ.

Namun perusahaan kemungkinan akan menghadapi tuntutan karena masalah tersebut menyangkut keselamatan anak-anak.

Seperti diketahui, nama Takata sudah sempat tercoreng setelah sempat terlibat masalah inflator kantung udara rusak yang menyebabkan penarikan kembali dan melalukan penarikan 100 juta unit di seluruh dunia. Kasus ini memaksa Takata bangkrut pada tahun 2017.