Otomotif / Mobil
Rabu, 25 Februari 2026 | 11:47 WIB
Ilustrasi Impor Pick Up India. (Gemini)
Baca 10 detik
  • Pemerintah berencana mendatangkan 105.000 unit pikap 4x4 dari India, bertentangan dengan dominasi pasar 4x2 nasional.
  • Gaikindo menyatakan industri otomotif lokal memproduksi berdasarkan permintaan riil pasar yang sangat besar pada segmen 4x2.
  • Industri 4x4 nasional terbatas karena pasar spesifik seperti perkebunan dan didukung ekosistem purna jual 4x2 mapan.

Suara.com - Rencana besar pemerintah untuk mendatangkan 105.000 unit pick up 4x4 dari India guna operasional Koperasi Merah Putih menuai perhatian publik. Kebijakan ini dianggap kontradiktif dengan struktur pasar kendaraan niaga di Indonesia yang selama ini sangat kuat di segmen penggerak 4x2.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menegaskan bahwa manufaktur dalam negeri sebenarnya memproduksi kendaraan berdasarkan kebutuhan riil pasar domestik. Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa industri otomotif sangat bergantung pada permintaan yang ada.

“Industri ini tergantung pada pasarnya. Pasar untuk kendaraan niaga kita itu besarnya di 4x2 saat ini. Sehingga industri-industri itu memproduksi kendaraan niaga yang 4x2. Jadi itulah pasar yang ada di Indonesia,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini, Rabu (25/2/2026).

Putu menambahkan bahwa kendaraan tipe 4x4 memang pernah diproduksi di tanah air. Namun keterbatasan segmentasi membuat pengembangannya tidak semasif model 4x2 karena penggunaannya yang sangat spesifik.

“4x4 pernah dibuat tetapi karena pasarnya tidak mencukupi, sehingga tidak banyak. Itu khusus untuk perkebunan dan tambang,” katanya.

Volume permintaan yang relatif kecil memaksa sebagian besar pabrikan hanya melakukan penyesuaian unit atau melalui karoseri khusus ketimbang produksi massal. Di lain pihak, ekosistem kendaraan niaga 4x2 di Indonesia sudah sangat mapan dari hulu hingga hilir. Saat ini tingkat kandungan lokal untuk segmen light truck bahkan telah melampaui angka 42 persen.

Kesiapan industri nasional juga tercermin dari jaringan pendukung yang sudah merata di berbagai pelosok. Putu menilai aspek purna jual menjadi kunci utama dalam menjaga operasional kendaraan niaga di daerah.

“Nah kalau di hilirnya juga sudah cukup berkembang. Purna jual untuk kendaraan niaga kita ini sudah tersebar di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Sinergi antara jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, hingga kesiapan tenaga mekanik diklaim telah mumpuni untuk mendukung kelancaran distribusi logistik nasional.

Baca Juga: Kontroversi Impor Mobil India Rp 24 Triliun Saat Pabrik Lokal Sedang Nganggur

“Kalau ada permasalahan baik itu untuk bengkel-bengkelnya, untuk SDM-nya maupun untuk komponennya itu cepat terpenuhi dan kendaraan itu tidak akan lama diperbaiki sehingga operasionalnya sangat membantu kelancaran,” kata Putu.

Load More