- Volkswagen memangkas 50 ribu karyawan di Jerman hingga 2030 akibat penurunan laba bersih signifikan pada laporan 2025.
- Penurunan keuntungan VW dipicu oleh biaya energi melonjak, tarif perdagangan, serta persaingan ketat produsen China.
- Krisis energi Eropa memburuk karena gangguan suplai minyak dan LNG dari Timur Tengah, menekan industri otomotif.
Suara.com - Industri otomotif Eropa sedang menghadapi masa sulit. Volkswagen (VW), produsen mobil terbesar di Uni Eropa sekaligus pesaing utama Toyota di pasar global, baru saja mengumumkan rencana PHK pada sekitar 50 ribu karyawan di Jerman, menurut catatan Russia Today.
Langkah drastis ini diambil karena keuntungan perusahaan merosot tajam, biaya energi melonjak, dan tekanan perdagangan semakin berat.
Dalam laporan tahunan 2025, VW mencatat laba bersih hanya €6,9 miliar atau sekitar Rp135 triliun, turun hampir setengah dari tahun sebelumnya. Angka ini menjadi hasil terlemah sejak skandal diesel pada 2016.
Pendapatan juga turun menjadi €322 miliar (sekitar Rp6.310 triliun). Kondisi ini membuat manajemen VW menegaskan perlunya “pengurangan biaya secara sistematis” agar tetap kompetitif.
Pemangkasan 50 ribu posisi akan dilakukan bertahap hingga 2030, terutama di operasi VW di Jerman. Sebelumnya, pada 2024, perusahaan sempat mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja untuk menghindari PHK paksa dan penutupan pabrik.
Namun, dengan kondisi keuangan yang semakin tertekan, VW kini tidak punya banyak pilihan selain mengurangi jumlah tenaga kerja secara besar-besaran.
Tekanan Eksternal yang Berat
Menurut Chief Financial Officer VW, Arno Antlitz, tahun 2025 ditandai oleh tarif perdagangan, kompetisi ketat, dan ketegangan geopolitik. Industri otomotif Jerman juga terpukul oleh harga energi yang tinggi setelah Uni Eropa mengurangi impor minyak dan gas dari Rusia sejak 2022.
Peralihan ke sumber energi alternatif yang lebih mahal membuat biaya produksi melonjak.
Baca Juga: Ekspor Mobil Toyota Indonesia ke Timur Tengah Tersendat, Produksi Tak Berhenti
Selain itu, persaingan dari produsen mobil listrik asal China semakin ketat, sementara tarif dari Amerika Serikat menambah beban ekspor. Transisi ke kendaraan listrik yang lebih lambat dari perkiraan juga membuat VW kesulitan menjaga margin keuntungan.
Krisis Energi dan Dampaknya
Situasi energi di Eropa semakin rumit setelah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan udara AS-Israel ke Iran dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat pasokan minyak dan LNG terganggu. Lalu lintas kapal di jalur vital itu dilaporkan turun hingga 80 persen dalam sepekan, mendorong harga minyak mentah dan gas Eropa naik tajam.
Kondisi ini menambah tekanan pada industri otomotif yang sangat bergantung pada energi. Pemerintah Uni Eropa kini dikabarkan sedang membahas langkah darurat, termasuk meninjau ulang pajak energi nasional, biaya jaringan listrik, dan mekanisme harga karbon untuk meringankan beban produsen.
Ancaman bagi Ekonomi Jerman
Pemangkasan besar-besaran oleh VW menjadi sinyal serius bagi ekonomi Jerman, yang selama ini bertumpu pada sektor manufaktur otomotif. Dengan biaya energi yang tinggi, permintaan lesu, dan persaingan global yang semakin sengit, masa depan industri otomotif Eropa terlihat penuh tantangan.
VW mungkin bukan satu-satunya yang akan melakukan efisiensi besar. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin produsen lain juga akan mengambil langkah serupa demi bertahan di tengah badai ekonomi global.
Berita Terkait
-
Ekspor Mobil Toyota Indonesia ke Timur Tengah Tersendat, Produksi Tak Berhenti
-
Terkuak di Dokumen Negara, Toyota Siapkan Mobil MBG? Wujud Boksnya Bikin Salah Fokus
-
3 Mobil Sedan Klasik Ini Punya Pesona Abadi di Jalanan, Harga Mulai Rp20 Jutaan
-
Agrinas Tawarkan Pengadaan Pikap Kopdes Merah Putih, Toyota: Harga Tidak Ketemu
-
Ratusan Buruh Terhempas Badai PHK, Jabar dan Sumsel Paling Merana
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123