Otomotif / Mobil
Kamis, 30 April 2026 | 10:13 WIB
Ilustrasi mobil mengisi bahan bakar Etanol (Gemini)
Baca 10 detik
  • Pertamina NRE menjalin kerja sama strategis pada 27 April 2026 untuk membangun tiga pabrik bioetanol baru di Indonesia.
  • Pabrik di Lampung, Bone, dan fasilitas berbasis molase tersebut ditargetkan mendukung implementasi program bahan bakar E20 pada 2028.
  • Proyek ini bertujuan meningkatkan kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan komoditas lokal seperti ubi, jagung, serta tebu sebagai bahan baku.

Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar proyek energi. “PTPN akan memastikan ketersediaan feedstock, sementara Pertamina mendorong hilirisasi energi. Ini bukan sekadar proyek, tetapi upaya bersama untuk membangun masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Target 3-5 Juta Kiloliter: Berapa Banyak Ubi yang Dibutuhkan?

Angka kebutuhan bioetanol untuk E20 pada 2028 sangat fantastis. CEO Pertamina NRE, John Anis, menyebutkan kebutuhan nasional mencapai 3 hingga 5 juta kiloliter per tahun. Untuk gambaran, satu kiloliter setara 1.000 liter. Jadi kita bicara 3-5 miliar liter etanol.

Berapa banyak ubi yang harus ditanam? Sebagai ilustrasi kasar, satu ton ubi kayu segar dapat menghasilkan sekitar 150-180 liter etanol. Untuk 3 juta kiloliter, dibutuhkan lebih dari 16 juta ton ubi kayu. Jumlah yang bisa mengubah peta pertanian Indonesia, dan tentu saja meningkatkan permintaan.

Inilah kenapa kata “komoditas panas” mungkin tepat. Ubi, jagung, dan tebu akan menjadi rebutan karena nilainya naik dari sekadar bahan pangan/pakan menjadi bahan baku energi.

Kutipan Kunci: "Sumber Energi Terbaik dari Dalam Negeri"

Dalam situasi geopolitik global yang tidak menentu, narasi kemandirian energi terdengar makin lantang. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan, "Sumber energi terbaik adalah yang berasal dari dalam negeri. Kolaborasi ini membuka jalan bagi pemanfaatan energi terbarukan berbasis potensi domestik."

Senada, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiya Dewi, menekankan urgensi proyek ini.

"Implementasi bioetanol ini tidak bisa ditunda lagi. Target E20 pada 2028 membutuhkan lompatan besar, baik dari sisi pasokan maupun infrastruktur," tegasnya saat menyaksikan penandatanganan.

Baca Juga: Sinergi Hulu Migas Dorong Tata Kelola Sumur Rakyat dan Ketahanan Energi Nasional

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sebagian besar BBM. Setiap rupiah yang bisa digantikan oleh etanol dari tanaman lokal berarti mengalirkan uang ke petani dan industri dalam negeri, bukan ke pasar minyak global.

Dampak Bagi Petani dan Harga Pangan

Kekhawatiran klasik segera muncul: Apakah ini akan menaikkan harga ubi dan jagung di tingkat konsumen? Jawabannya, potensi itu ada, tetapi dengan manajemen yang tepat, dampak negatif bisa diminimalkan.

Pemerintah melalui PTPN III dan perusahaan perkebunan negara lain menjamin pasokan dari lahan yang dikelola sendiri atau kemitraan dengan petani, bukan semata-mata menyerap dari pasar bebas.

Berikut beberapa dampak positif yang bisa dicatat:

  • Kepastian pasar bagi petani: Pabrik bioetanol akan menjadi pembeli tetap dengan volume besar, mirip seperti pabrik gula menyerap tebu.
  • Diversifikasi sumber pendapatan: Petani tidak lagi bergantung pada harga pangan yang fluktuatif, karena ada pasar energi yang lebih stabil.
  • Peningkatan produktivitas: Untuk memenuhi permintaan, akan ada dorongan pada teknologi pertanian, bibit unggul, dan mekanisasi.
  • Potensi harga pangan: Jika pasokan untuk energi mengganggu ketersediaan pangan, bisa terjadi kenaikan. Tapi pengelolaan feedstock secara multi-sumber (ubi, jagung, tebu, molase) menyebar risiko.

Roadmap: Dari Glenmore ke Bone, Menuju 2030

Load More