Otomotif / Mobil
Kamis, 14 Mei 2026 | 14:57 WIB
Logo BYD. [Suara.com/Liberty Jemadu]
Baca 10 detik
  • Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu kewaspadaan bagi industri otomotif nasional, termasuk produsen BYD Indonesia.
  • Luther Panjaitan menegaskan stabilitas daya beli masyarakat menjadi faktor krusial yang menentukan keberlangsungan seluruh segmen industri otomotif nasional.
  • Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan ekonomi nasional guna meredam dampak negatif ketegangan geopolitik global.

Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini mencapai level yang sangat mengkhawatirkan. Kondisi ini mulai memicu alarm waspada dari para pelaku industri otomotif nasional termasuk raksasa otomotif asal China yakni BYD Indonesia.

Head of Marketing PR and Government Relations BYD Indonesia Luther Panjaitan menyatakan keprihatinannya atas dinamika ekonomi yang tengah terjadi. Ia menegaskan bahwa faktor paling krusial bagi industri saat ini bukanlah sekadar teknologi melainkan stabilitas daya beli masyarakat.

“Kita sangat harapkan jangan sampai terjadi satu dampak kepada daya beli. Karena daya beli ini penting buat kita sebagai industri otomotif,” ujar Luther, di Bogor, Kamis (14 Mei 2026).

Penurunan daya beli diprediksi akan menghantam seluruh segmen pasar tanpa terkecuali. Dampaknya tidak hanya menyasar penetrasi mobil listrik atau EV namun juga merambah ke kendaraan bermesin konvensional maupun hybrid.

Jika ekonomi terus tertekan maka seluruh rantai industri otomotif akan merasakan imbas negatif secara langsung.

“Sudah tidak ngomong lagi EV, ngomongin ICE atau hybrid, tapi kalau daya beli yang terpukul tentunya secara keseluruhan dari industri,” kata Luther.

Meskipun tekanan eksternal cukup berat Luther menilai situasi ini merupakan dampak dari ketegangan geopolitik global yang memengaruhi stabilitas banyak negara.

Mobil lIstrik BYD Atto 1 Facelift Meluncur Beijing Auto Show 2026. (Foto: Autohome)

Ia berharap segera ada langkah konkret untuk menstabilkan gejolak ekonomi tersebut agar industri tetap tumbuh.

“Mudah-mudahan segera ada jalan keluar terhadap situasi dan pergolakan ekonomi saat ini,” tuturnya.

Baca Juga: Berkat Subsidi, Penjualan Mobil Listrik Toyota Kalahkan BYD

Terkait potensi lonjakan harga kendaraan akibat membengkaknya biaya impor Luther menyebut hal itu belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri yang diterapkan pemerintah dinilai masih efektif menjadi perisai untuk meredam dampak fluktuasi mata uang asing.

Berdasarkan data pasar keuangan nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17.511 per dolar AS. Pelemahan tajam ini dipicu oleh tingginya volatilitas pasar yang mendorong hengkangnya investor asing dari pasar negara berkembang.

Load More