Pertama dalam Sejarah, Pangsa Pasar Mobil BBM Anjlok di Bawah 50 Persen

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:40 WIB
Pangsa pasar mobil BBM konvensional merosot di bawah 50 persen untuk pertama kalinya akibat peralihan konsumen ke kendaraan listrik. [Antara]
BACA 10 DETIK
  • Konflik Timur Tengah sejak Februari 2026 menyebabkan lonjakan harga minyak dunia dan penurunan penjualan mobil BBM global.
  • Pangsa pasar mobil konvensional merosot di bawah 50 persen untuk pertama kalinya akibat peralihan konsumen ke kendaraan listrik.
  • Penjualan mobil listrik global meningkat pesat mencapai 6,87 juta unit yang didorong ekspansi merek-merek asal China.

Suara.com - Penjualan mobil berbahan bakar minyak menyusut di bawah 50 persen untuk pertama kalinya dalam sejarah akibat meroketnya harga minyak dunia imbas konflik di Timur Tengah. Konsumen kini semakin gandrung dengan mobil listrik.

Seperti diwartakan Nikkei Asia, Jumat (2/9/2026), penjualan mobil BBM di dunia - termasuk juga hybrid di dalamnya - turun 10 persen pada periode Januari - Juni 2026 menjadi 20,25 juta unit.

Alhasil pangsa pasar mobil konvensional kini hanya tinggal 49 persen, turun 3 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Jika dirunut jauh ke belakang, penurunan market share mobil BBM sudah turun drastis dalam waktu singkat. Sebagai pembanding, di 2021 lalu pangsa pasar mobil BBM mencapai 73 persen.

Ini adalah pertama kalinya pasar mobil bertenaga BBM anjlok di bawah 50 persen sejak kendaraan roda empat mulai dipasarkan secara luas di era 1920an.

Apa pemicunya?

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah yang berlangsung sejak Februari lalu telah menyebabkan naiknya harga minyak dunia. Kondisi ini kemudian membuat konsumen beralih ke mobil listrik.

Penjualan mobil BBM di China turun 26 persen, sementara di Eropa anjlok 13 persen. China adalah pasar mobil terbesar di dunia.

Di sisi lain penjualan mobil listrik melejit 12 persen ke 6,87 juta unit atau berkontribusi ke 17 persen penjualan mobil dunia. Angka ini naik tiga poin dan sudah berada di atas ambang batas 16 persen - yang menandai mulai diterima luasnya sebuah teknologi baru di pasar otomotif.

Separuh penjualan mobil listrik dunia tercatat di China, dengan jumlah mencapai 3,44 juta unit. Uniknya penjualan mobil listrik di Tiongkok justru turun 3 persen dibanding tahun lalu, setelah Beijing mencabut insentif pajak EV sejak awal tahun ini.

Di Amerika Utara penjualan mobil listrik juga turun 15 persen, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mencabut insentif kendaraan listrik di negaranya.

Penjualan mobil listrik mengalami lonjakan di Eropa (32 persen) menjadi 1,81 juta unit. Penjualan mobil listrik di 31 negara Eropa bahkan sudah mengalahkan penjualan mobil bensin.

Sementara di Asia Tenggara, penjualan mobil listrik naik 81 persen menjadi 350.000 unit dan Oseania naik lebih dari 50 persen menjadi 110.000 unit.

Melonjaknya penjualan mobil listrik tak lepas dari ekspansi pasar merek-merek otomotif China seperti Geely dan BYD. Dua merek itu sudah menguasai 60 persen pangsa pasar mobil listrik dan plug in hybrid (PHEV) dunia. Di pasar selain AS, Eropa dan China, sebesar 55 persen mobil listrik diimpor dari China.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com