- PT Astra Daihatsu Motor berfokus pada pembeli mobil pertama di luar Jawa untuk menghadapi persaingan merek China.
- Daihatsu mencatat kenaikan penjualan 9,1 persen hingga Agustus 2026, tetapi pangsa pasarnya turun menjadi 16,3 persen.
- Josua Pardede menyatakan masuknya mobil listrik dan hybrid murah asal China menggerus pangsa pasar merek Jepang.
Suara.com - PT Astra Daihatsu Motor (ADM) mengatakan akan memperkuat fokus pada segmen pasar andalannya dalam menghadapi gempuran merek-merek mobil China yang semakin digdaya di Indonesia.
Marketing Director & Corporate Function Director PT ADM Rokky Irvayandi juga mengungkapkan di tengah gempuran merek China, Daihatsu masih bisa membukukan kenaikan penjualan sepanjang tahun ini.
Rokky, menjawab pertanyaan Suara.com di arena Astra Media Day, Rabu (23/9/2026), mengatakan dalam menghadapi gempuran merek China Daihatsu akan fokus ke segmen pasar tradisionalnya, para pembeli mobil pertama yang berdomisili di luar Jawa.
"Setiap merek punya target pasarnya masing-masing. Kami akan tetap fokus pada core konsumen kami, yakni pembeli mobil pertama dengan segmen di bawah Rp300 juta. Mereka sangat berperan untuk motorisasi di Indonesia," kata Rokky.
"First buyer car untuk Daihatsu ada di luar Jawa dengan kontribusi 55 persen," lanjut dia.
Lebih jauh Rokky menekankan Daihatsu akan memberikan kemudahan pada para konsumennya untuk tidak saja membeli mobil baru, tapi juga dalam perawatan hingga saat akan menjual kembali kendaraan mereka dengan memanfaatkan jaringan dealer yang luas serta layanan jual beli mobil bekas dari Astra, OLX.
"Kami akan memberikan kemudahan di sepanjang periode kepemilikan kendaraan," tegas dia.
Berdasarkan data bulanan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, hingga Agustus kemarin Daihatsu sudah menjual 97.059 unit mobil di Indonesia, naik 9,1 persen dari tahun lalu.
Tetapi di saat yang sama, pangsa pasar Daihatsu turun menjadi 16,3 persen dari 17 persen tahun sebelumnya dan 19 persen pada 2024.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, kepada Suara.com menjelaskan bahwa susutnya pangsa pasar Daihatsu dan merek-merek mobil Jepang lainnya di Indonesia menunjukkan adanya redistribusi pasar. Ia mengakui masuknya merek-merek mobil China yang membawa mobil listrik dengan harga lebih murah dan teknologi lebih canggih turut menggerus pasar merek-merek Jepang.
"Jadi memang terjadi perpindahan sebagian permintaan dari merek lama menuju pendatang baru, khususnya pada kendaraan listrik, kendaraan hybrid, dan kendaraan jenis SUV," beber Josua.
Josua memperingatkan pergeseran pangsa pasar mobil di Indonesia bersifat struktural, bukan sementara.
Di saat daya beli masih melemah dan harga BBM melonjak, konsumen menjadi semakin cerdas dan selektif dalam membeli mobil baru. Dengan harga yang sama, mereka semakin menuntut nilai yang lebih besar. Hal itu diperoleh dari mobil-mobil China.
"Merek China memanfaatkan situasi tersebut dengan harga agresif, teknologi elektrifikasi, banyak model baru dan ekspansi produksi lokal. Kenaikan biaya BBM memperbesar daya tariknya, tetapi bukan faktor utama.," simpul dia.
Ia mengatakan jika merek-merek Jepang termasuk Daihatsu ingin mempertahankan dominasinya di Indonesia, maka respons yang lebih tepat bukan sekadar perang diskon.
"Mereka perlu mempercepat kendaraan listrik dan hybrid yang terjangkau, memperpendek siklus penyegaran produk, meningkatkan kelengkapan pada kelas harga yang sama, sekaligus mempertahankan keunggulan jaringan layanan dan nilai jual kembali," ia melanjutkan.
Merek-merek Jepang, kata Josua, masih memiliki skala industri dan rantai pasok yang sangat besar di Indonesia. Tantangannya adalah mengubah keunggulan lama tersebut menjadi produk yang tetap relevan ketika preferensi konsumen bergerak jauh lebih cepat.