- Kelangkaan BBM di Bali sejak Oktober 2026 dipicu konsumsi tinggi dan memicu lonjakan harga bensin eceran ekstrem.
- Pertamina mengerahkan pasokan darurat, kapal pengangkut, armada tangki, serta mengoperasikan SPBU utama selama 24 jam penuh.
- Dampak krisis mencakup kelelahan petugas SPBU, penghentian sekolah, kebijakan kerja dari rumah, dan sorotan internasional.
Suara.com - Krisis kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Pulau Dewata tidak hanya memicu antrean panjang warga lokal, tetapi juga menjadi sorotan wisatawan mancanegara.
Sebuah unggahan video dari akun TikTok @bulehamiss mendadak viral setelah memperlihatkan reaksi terkejut sekaligus tertawa getir seorang turis asing menghadapi lonjakan harga bensin eceran yang tidak wajar.
Dalam video tersebut terungkap bahwa sejumlah pedagang eceran diduga memanfaatkan situasi dengan menjual bensin botolan seharga Rp200.000 hingga Rp250.000 per liter.
"250 ribu 1 botol, worth it nggak?" tulisnya pada video tersebut.
"Nggak usah gaes, kita pakai motor listrik," tuturnya pada video tersebut.
Beberapa netizen di kolom komentar bahkan menyebut ada yang menjual hingga Rp300.000 per botol. Turis dalam video tersebut mengaku beruntung karena menggunakan motor listrik sehingga tidak perlu membeli bensin dengan harga yang sangat mahal.
Video itu kemudian dibanjiri komentar warganet yang mengingatkan wisatawan agar tidak membeli BBM eceran tersebut karena dianggap sebagai praktik yang memanfaatkan kondisi kelangkaan.
Penjelasan Resmi Pertamina Terkait Kelangkaan BBM di Bali
Menanggapi keresahan publik akibat kekosongan pasokan BBM jenis Pertalite dan Pertamax sejak Minggu, 11 Oktober 2026, PT Pertamina Patra Niaga memberikan penjelasan resmi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa kelangkaan ini dipicu tingginya konsumsi BBM bersubsidi jenis Pertalite yang rata-rata mencapai 2.200 kiloliter per hari di wilayah Bali.
Sebagai langkah untuk mengatasi krisis distribusi, Pertamina Patra Niaga mengerahkan kapal pengangkut BBM yang membawa pasokan darurat sebesar 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax ke Integrated Terminal Manggis dan Fuel Terminal Sanggaran.
Secara bertahap, Pertamina juga memasok tambahan BBM sebanyak 57,9 juta liter guna menormalkan ketersediaan energi di seluruh SPBU.
Selain menyiagakan 108 mobil tangki dan 465 awak armada, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa perusahaan mengoperasikan sejumlah SPBU utama di wilayah Denpasar dan Badung selama 24 jam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Fakta-Fakta dan Situasi Terkini Dampak Kelangkaan Bensin di Bali
Dampak kelangkaan bensin ini meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat Bali. Salah satu insiden yang menyita perhatian adalah aksi protes seorang petugas SPBU perempuan di hadapan Gubernur Bali Wayan Koster saat melakukan peninjauan lapangan.
Petugas tersebut mengalami kelelahan ekstrem (burnout) setelah bekerja hampir tanpa henti melayani antrean kendaraan yang terus memanjang, hingga akhirnya meluapkan emosinya akibat beban kerja yang sangat berat.
Krisis energi ini juga mengganggu aktivitas pendidikan dan perkantoran. Di Kota Denpasar, kegiatan belajar mengajar sempat terhenti selama tiga hari sehingga siswa dialihkan ke sistem pembelajaran daring.
Pemerintah daerah juga memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi ASN dan pegawai BUMD hingga 17 Oktober 2026 untuk mengurangi mobilitas masyarakat.
Kondisi tersebut bahkan mendapat sorotan dari media internasional Al Jazeera. Dalam laporannya, media tersebut menyoroti bahwa keterlambatan distribusi BBM berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat berpenghasilan rendah, terutama pengemudi ojek daring, pedagang kecil, serta pelaku usaha penyewaan kendaraan yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada transportasi berbahan bakar minyak.