SUARA PONOROGO - Dalam rangka menyambut Pemilu Legislatif 2024, isu money politik semakin mencuat sebagai momok yang mengancam integritas demokrasi.
Agus Nasruddin, bakal calon legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) untuk DPRD Kabupaten Ponorogo dari Dapil I (Ponorogo dan Babadan), dengan tegas mendukung pandangan bahwa praktik money politik memiliki potensi besar untuk memperburuk masalah kemiskinan yang ada di masyarakat.
Ia menekankan bahwa money politik, yang merupakan praktek membeli suara dalam konteks politik, berpotensi melanggengkan kemiskinan.
"Caleg yang membeli suara sebenarnya tidak membangun hubungan yang berlandaskan kepercayaan dengan pemilihnya. Jika pengeluaran untuk kampanye untuk membeli suara lebih besar daripada pemasukan saat menjadi anggota dewa, maka berpotensi akan terjadi upaya untuk mengembalikan modal dengan cara-cara yang tidak transparan," tegas Agus.
Mengenai alasan di balik keberaniannya menentang money politik, Agus Nasruddin memberikan contoh konkret.
"Sekarang, katakanlah seorang caleg dapil tingkat 2 menghabiskan 2 miliar untuk kampanye dan membeli suara. Jika dia terpilih dan masuk parlemen, pertanyaannya adalah, bagaimana dia akan mengembalikan uang yang sudah dia keluarkan? Ini bisa saja memicu praktik korupsi atau intervensi dalam kebijakan demi mendapatkan keuntungan pribadi." tegasnya
Agus Nasruddin juga menjelaskan latar belakang keikutsertaannya dalam dunia pergerakan dan politik. Sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Surabaya pada periode 2001-2003,
Agus memiliki pengalaman dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
"Saya percaya bahwa perubahan substansial hanya dapat dicapai melalui sistem pemerintahan. Oleh karena itu, saya mengambil langkah untuk turut serta dalam kontestasi legislatif 2024," ujarnya.
Aktivis pergerakan 98 yang pernah berada di barisan PDI Perjuangan pasca reformasi 98 ini juga telah membangun jejak dalam mengimplementasikan nilai-nilai Bung Karno.
Baca Juga: 4 Tips bagi Mahasiswa yang Sering Homesick, Jaga Komunikasi dengan Keluarga
Ia mengutip prinsip Tri Sakti yang mengajarkan tentang kemandirian di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan sebagai landasan penting dalam memajukan bangsa.
"Kita harus menggali dan mewujudkan gagasan-gagasan Bung Karno agar bangsa ini bisa tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," tutup Agus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan
-
Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN
-
Tarif Rp5 Ribu Dikritik Warga, Sekda Janji Evaluasi Parkir Alun-Alun Tegar Beriman
-
Promo Anniversary Bukan Cuma Diskon, Ada Treasure Hunt dan Mini Games
-
URI Bukan Solusi! Pengangguran Terdidik Terjadi karena Sarjana Tak Punya Skill
-
Sekolah Ramah Anak Tak Selalu Dimulai dari Hal Besar, Dua Inovasi Siswa Ini Buktinya
-
KPK Ungkap Dugaan Permintaan Opini WTP oleh Bupati PALI, Ada Nama Anggota BPK RI
-
Kapal Tanzania MV Ocean Porter Tertangkap di Riau, Angkut 2,6 Ton Sabu Cair dan Rokok China
-
Kapolri Terjun Langsung ke Lokasi Gempa NTT, Boni Hargens Sebut Polri Garda Terdepan Kemanusiaan
-
BRI Turut Berperan Aktif Dalam Percepat Pemulihan Gempa NTT Lewat Posko Logistik BRI Peduli