/
Rabu, 01 Februari 2023 | 12:20 WIB
Arief Rama Syarif dalam Indonesia Linux Conference 2022 (Dokumen Pribadi)

Poptren.suara.com - Indonesia pada tahun 2030 mendatang akan membutuhkan tenaga kerja muda yang melek teknologi dan data. Hal itu seperti disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, beberapa waktu lalu.

Bila tidak didukung dengan talenta data yang memiliki kompetensi, dikwawatirkan Indonesia akan tertinggal dalam menghadapi disrupsi global. Padahal, generasi muda merupakan tonggak penerus bangsa.

Mengutip data sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, tercatat sebanyak 44,6 juta penduduk Indonesia masuk dalam golongan usia muda. Artinya, beberapa tahun ke depan mereka harus siap memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja dengan mengupgrade skill.

Menanggapi hal ini, Arief Rama Syarif yang merupakan praktisi data menyebut kesiapan anak muda untuk melek data harus melalui proses yang serius. Meski begitu, ia mengungkap bahwa untuk bisa memahami data atau belajar soal pemahaman data, tak perlu menjadi ahli di bidang IT.

''Saat ini banyak platform data analisis yang bisa dipelajari dengan mudah, asal tekun dan serius. Kenapa lebih mudah? Karena kita gak perlu ahli dalam ilmu coding atau ilmu IT. Cukup memiliki komitmen untuk mau belajar menganalisa data melalui platfom tersebut,'' kata Arief, saat berbincang dengan Poptren, Rabu (1/2/2023).

Ia mencontohkan salah satu platform yang saat ini cukup mudah dipelajari dalam menganalisa data adalah KNIME analitics tools. Platfom tersebut dengan mudah membantu orang awam sekalipun untuk bisa melakukan prediksi dan esimasi dari sebuah dataset.

"Cukup mudah dan membantu banget. Cuma ya itu tadi, harus serius dan tekun mempelajarinya,'' tambahnya.

Ia pun mengingatkan, yang terpenting dari sebuah analisa data adalah bagaimana kita menemukan sebuah prediksi dan estimasi, yang menjadi dasar penentuan keputusan, baik itu untuk perusahaan maupun entitas bisnis lainnya.

''Jadi bukan soal bagaimana kita membuat data visualisasi, tapi lebih kepada insight apa yang bisa kita dapatkan dari sekumpulan bigdata tadi,'' tegasnya.

Baca Juga: Waduh! TikTok Disebut Bisa Rekam Data Pengguna dari Ketikan Keyboard

Arief Rama Syarif memberika edukasi data bagi para pekerja muda. (sumber: Dokumen pribadi)

Ia juga memberikan contoh bahwa satu entitas usaha yang sangat membutuhkan para analisis data--untuk saat ini dan di masa depan, adalah sektor logistik. Salah satu contohnya adalah, ketika pandemi justru layanan logistik melonjak pesat.

Pertumbuhan e-Commerce di Indonesia telah menciptakan peluang di sektor logistik yang semakin moncer. Menurut data Nilai Gross Merchandise Value (GMV), e-Commerce di Indonesia diprediksi akan tumbuh dari 32 miliar dolar AS menjadi 83 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Tentunya nilai itu berbanding lurus dengan melonjaknya kebutuhan akan layanan logistik. Apalagi dengan tren sebagian besar masyarakat sudah memilih untuk berbelanja online ketimbang mendatangi gerai toko secara konvensional.

Tentunya ini menjadi kabar baik bagi para penggerak bisnis startup untuk berinovasi di sektor logistik, yang sudah pasti akan membutuhkan tenaga-tenaga muda yang memiliki kemampuan analisa data di masa depan.

Dengan peluang yang terbuka lebar, serta dukungan teknologi yang semakin mumpuni, rasanya peluang ini sayang untuk dilewatkan begitu saja oleh para generasi muda.

Load More