Poptren.suara.com - Ferdy Sambo akhirnya dijatuhi hukuman mati dalam perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Vonis untuk Ferdy Sambo itu lebih tinggi dari tuntutan jaksa sebelumnya, yakni penjara seumur hidup.
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri menilai sebagai psikopat, bisa jadi Ferdy Sambo memiliki kepribadian Machiavellinisme, yang berarti manipulatif, pengeksploitasi, dan penuh tipu muslihat.
Lalu, apa itu Machiavellianisme?
Machiavellianisme adalah sebuah istilah yang merujuk pada sikap atau perilaku manipulatif dan strategis yang diterapkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan mereka tanpa memperdulikan moralitas atau nilai-nilai sosial yang diakui oleh masyarakat umum.
Istilah "Machiavellianisme" berasal dari nama Niccolò Machiavelli, seorang filsuf politik abad ke-16 dari Italia yang terkenal karena karya tulisnya yang kontroversial, "The Prince".
Dalam bukunya, Machiavelli mengajarkan tentang taktik dan strategi politik yang amoral, di mana ia menyarankan pemimpin untuk menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan kekuasaan, termasuk taktik manipulatif dan penipuan.
Secara umum, orang yang memiliki tingkat Machiavellianisme yang tinggi cenderung memiliki karakteristik seperti kecenderungan untuk merencanakan strategi yang rumit untuk mencapai tujuan, mengejar keuntungan dan kekuasaan dengan cara apa pun, memanipulasi orang lain untuk kepentingan pribadi mereka, dan tidak memperdulikan nilai-nilai moral atau etika.
Meskipun tingkat Machiavellianisme yang tinggi dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuan dan keberhasilan, namun karakteristik ini juga dapat menyebabkan masalah dan konflik dalam hubungan pribadi dan profesional.
Terlalu banyak menggunakan strategi manipulatif dan tidak menghargai moralitas dapat merusak hubungan dan mengurangi kepercayaan orang lain.
Baca Juga: Mengetahui Orangtuanya di Vonis Bersalah, Putri Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi Ungkap Perasaanya
Machiavellianisme biasanya terkait dengan psikopati dan narcissism, yang juga dapat berdampak negatif pada hubungan dan kesejahteraan psikologis.
Namun, tidak semua orang yang memiliki tingkat Machiavellianisme tinggi adalah psikopat atau narcisist, dan tidak semua orang yang memiliki sifat tersebut akan menggunakan taktik manipulatif secara tidak etis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
Terkini
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Timnas Italia Ingin Bajak Didier Deschamps, Kylian Mbappe Pasang Badan Halangi
-
Bosnia Kejutkan Kanada di Laga Pembuka Piala Dunia 2026, Gol Lukic Bungkam Tuan Rumah
-
Daftar Top Skor Sementara Piala Dunia 2026: Duo Korsel Memimpin
-
Kiper Nigeria Bikin Kaum Hawa Terpesona! Ini Dia Pemain Paling Tampan di Piala Dunia 2026
-
Viral! Jurnalis Perempuan Jadi Korban Pelecehan saat Liputan Piala Dunia 2026
-
Alasan Mantan Anak Emas John Herdman Absen di Laga Kanada vs Bosnia
-
Fakta vs Klaim FIFA: Benarkah Banyak Kursi Kosong di Piala Dunia 2026?
-
Penampakan Stadion Terburuk Piala Dunia 2026: Angin Kencang Bikin Tribun Goyang
-
Alasan Mengejutkan Trump Ogah Datang Pada Laga Perdana AS di Piala Dunia 2026